INFOTANGERANG.CO.ID – Di bawah temaram lampu masjid yang enggan padam hingga fajar, suasana batin umat Islam mendadak berubah di pengujung Ramadhan. Ada getar rindu sekaligus haru yang menyelinap di antara lantunan ayat suci. Fenomena ini bukanlah tanpa alasan; dunia Islam sedang memasuki fase Itqun minan Nar sebuah babak pembebasan dari api neraka yang menjadi puncak perlombaan spiritual setahun sekali.
“Mode Darurat” Sang Nabi
Menilik sejarah 14 abad silam, Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan sebuah ritme ibadah yang luar biasa saat memasuki sepuluh hari terakhir. Aisyah RA mengisahkan bahwa Nabi akan “mengencangkan sarungnya”, sebuah kiasan yang diartikan para ulama sebagai totalitas tanpa batas.
Beliau menanggalkan kenyamanan tempat tidur dan menjauh dari urusan duniawi demi memfokuskan energi pada Sang Pencipta. Menariknya, Rasulullah tidak egois dalam kesendirian. Beliau membangunkan keluarga untuk ikut terjaga, menciptakan semangat kolektif dalam menjemput kemuliaan, terutama pada malam-malam ganjil.
Strategi “Midnight Sale” Spiritual
Mengapa fase ini begitu dikejar? Jawabannya ada pada Lailatul Qadar, malam yang nilainya disebut Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, memberikan tamsil yang unik: ia mengibaratkan momen ini seperti midnight sale. Bonus pahala dan ampunan besar-besaran hanya akan bermakna bagi mereka yang datang dan “berbelanja” dengan ibadah.
Senada dengan itu, pakar tafsir M. Quraish Shihab memaknai “Qadar” dalam tiga dimensi:
- Mulia: Karena keagungan malamnya.
- Ukuran: Sebagai momentum turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
- Sempit: Karena sedemikian banyaknya malaikat yang turun ke bumi hingga ruang terasa sesak oleh keberkahan.

Ritual Fisik dan Keheningan I’tikaf
Ibadah di sepuluh malam terakhir ternyata tidak hanya soal batin. Rasulullah mengajarkan pentingnya kesegaran fisik dengan mandi di antara waktu Maghrib dan Isya. Ini adalah pesan tersirat bahwa menghadap Tuhan harus dalam kondisi terbaik; bersih lahiriah sebagai simbol kesucian batin.
Di Indonesia, tradisi ini memuncak pada ritual I’tikaf. Masjid-masjid bertransformasi menjadi “rumah kedua” bagi para jamaah. Dengan bekal sajadah dan Al-Qur’an, mereka menetap dalam diam, memanjatkan doa pamungkas yang diajarkan Nabi: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku).
Harapan di Garis Finis
Meskipun Ramadhan segera berlalu, sepuluh malam terakhir adalah “waktu tambahan” yang penuh kasih sayang. Bagi mereka yang mungkin lalai di awal bulan, pintu ampunan masih terbuka lebar di garis finis ini.
Meneladani Rasulullah di penghujung Ramadhan bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan upaya membasuh jiwa agar kembali fitrah. Saat fajar Idul Fitri menyingsing nanti, harapannya hanya satu: kita pulang sebagai pemenang yang bersih, layaknya bayi yang baru dilahirkan ke dunia.
(AD/Rdk)



