Pengoperasian armada tersebut dilakukan dengan sistem permintaan atau by request, bukan melalui jadwal putaran seperti bus reguler.
Bus akan diberangkatkan setelah petugas halte atau sektor mengajukan permintaan sesuai kebutuhan di lapangan, terutama saat banyak jemaah lansia menjalani umrah wajib.
“Memang berdasarkan request banyak, dan terutama digunakan untuk umrah wajib bagi lansia dan disabilitas,” tambah Syarif menjelaskan efisiensi pola operasional armada tersebut.
Menurutnya, pola ini lebih efektif karena kapasitas bus terbatas dan dapat mengurangi pergerakan kendaraan kosong di jalur padat sekitar Makkah.
Petugas juga secara aktif memantau keberadaan jemaah pengguna kursi roda di area hotel sebelum memanggil armada khusus tersebut.
Layanan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memberikan pelayanan haji yang inklusif dan manusiawi.
Dengan dukungan transportasi yang lebih ramah, keterbatasan fisik tidak lagi menjadi hambatan bagi jemaah lansia dan disabilitas untuk beribadah di Masjidil Haram.
(Ard/Rdk)



