Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menegaskan bahwa durian kini menjadi salah satu komoditas perkebunan Indonesia dengan pertumbuhan tercepat. “Indonesia memiliki keunggulan berupa kondisi iklim tropis, keragaman varietas, dan wilayah budidaya yang luas, sehingga mampu memasok durian berkualitas tinggi sepanjang tahun,” katanya.
Di tahun 2024, Indonesia telah berhasil mengirimkan 600 ton durian beku ke pasar Thailand dan Hong Kong, menunjukkan kapabilitas ekspor yang telah teruji.
“Durian bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga simbol internasionalisasi dan pertumbuhan berkualitas tinggi sektor pertanian Indonesia,” tutur Aditya Pradewo.
Meski telah berhasil menembus pasar Tiongkok dengan durian beku, pemerintah Indonesia kini membidik target yang lebih tinggi: membuka akses pasar untuk durian segar.
Untuk mencapai ambisi ini, pemerintah berfokus pada modernisasi pertanian, digitalisasi produksi, serta peningkatan standar karantina secara berkelanjutan. Upaya ini dilakukan agar ekspor durian segar dapat memenuhi persyaratan ketat Tiongkok dalam dua tahun mendatang.
Liu Feng, Sekretaris Jenderal Asosiasi Durian Internasional, menyambut positif upaya ini. Ia menyatakan bahwa kebangkitan industri durian Indonesia menandai fase baru dalam struktur industri durian dunia. Asosiasi Durian Internasional bahkan berkomitmen untuk mendukung Indonesia melalui transfer teknologi, standardisasi, dan pengembangan merek.
Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi lembaga terkait, dan pengakuan internasional, durian Indonesia siap mencatatkan diri sebagai bintang baru yang membawa harum nama pertanian Indonesia ke pasar dunia.
(AD/Rdk)



