Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


PSU Bekasi Dorong Guru PAUD Tangerang Kuasai Berpikir Komputasional Lewat Penataan Lingkungan Main

Bukan sekadar pelatihan teknis, workshop ini membawa misi besar. Di balik tema yang diangkat, tersimpan pesan besar bagi dunia pendidikan anak usia dini: berpikir komputasional tidak harus dimulai dari coding, layar, atau perangkat digital, tetapi justru dapat dibangun dari sesuatu yang paling dekat dengan anak, yakni lingkungan main yang dirancang secara cerdas, terarah, dan bermakna.

Pendidikan  

Editor: Ardiansyah

Workshop bertema Penataan Lingkungan Main dalam Mendukung Implementasi Berpikir Komputasional Bagi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini yang berlangsung pada Sabtu (25/4/2026) di Aula PGRI Kota Tangerang.
Advertisement

“Lingkungan main di PAUD harus dipahami sebagai ‘guru ketiga’. Anak tidak hanya bermain di dalamnya, tetapi juga belajar mengenali pola, menyusun langkah, mengambil keputusan sederhana, dan memecahkan masalah melalui pengalaman yang menyenangkan. Jadi yang kita bangun bukan sekadar ruang bermain, melainkan ruang tumbuh bagi cara berpikir anak,” kata Mansyur Ridho.

Pendekatan Aplikatif yang Relevan

Kekuatan workshop ini terletak pada pendekatannya yang sangat aplikatif. Setelah sesi penguatan materi, peserta diajak masuk ke tahap yang lebih konkret: merancang lingkungan main yang mendukung aktivitas berpikir komputasional sesuai konteks kelas masing-masing. Model ini penting, karena guru PAUD tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga contoh implementasi yang bisa langsung dibawa pulang dan diterapkan di lembaga mereka.

Antusiasme peserta pun menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Guru-guru PAUD yang hadir terlihat aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mengaitkan konsep yang dipelajari dengan kondisi nyata di kelas masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tema yang diangkat benar-benar menjawab kebutuhan lapangan, bukan sekadar agenda seremonial.

Baca juga:  Penantian Dedy DJ Sang Lawyer Tiba, Universitas Jayabaya Gelar Wisuda Doktor Ilmu Hukum di JCC

Ketua IGTKI Kota Tangerang, Endang Mardiningsih mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai workshop ini sangat relevan dengan kebutuhan guru PAUD saat ini.

“Guru PAUD membutuhkan pelatihan yang tidak berhenti pada teori. Yang dibutuhkan adalah penguatan yang bisa langsung diterapkan di kelas. Workshop ini membuka wawasan baru bahwa penataan lingkungan main ternyata dapat menjadi strategi pembelajaran yang sangat penting untuk membangun dasar berpikir anak sejak usia dini,” ujarnya.

Testimoni dan Dampak Nyata

Salah satu peserta workshop, Desi Ayuningtyas Wulandari, mengaku kegiatan ini membuka cara pandang baru terhadap penataan lingkungan belajar di PAUD.

“Selama ini kami menata area bermain agar menarik dan menyenangkan. Setelah mengikuti workshop ini, kami jadi lebih paham bahwa penataan lingkungan main juga bisa dirancang untuk melatih logika, pola pikir, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah sederhana. Ini sangat bermanfaat dan langsung bisa diterapkan,” ungkap Desi.

Dalam dunia PAUD, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari sekadar pelatihan satu hari. Ini merupakan sebuah penegasan bahwa inovasi pendidikan anak usia dini tidak selamanya harus mahal, rumit, atau bergantung pada perangkat digital. Sebaliknya, inovasi yang autentik justru lahir dari dalam ruang kelas, mulai dari cara guru menata alat permainan, merancang sudut eksplorasi, hingga menyusun alur aktivitas dan pengalaman belajar anak secara sadar serta terukur.

Baca juga:  Jelang Ramadhan Ketersediaan Pangan di Pasar Anyar Stabil, Ahmad Juhaeni: Harga Bervariasi

​Melalui inisiatif ini, Mahasiswa Pascasarjana PSU Bekasi membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat teori. Kampus harus hadir sebagai motor penggerak yang mentransformasi praktik pendidikan langsung di lapangan.

​Kolaborasi strategis dengan IGTKI dan HIMPAUDI Kota Tangerang menjadi bukti nyata bahwa penguatan mutu PAUD membutuhkan sinergi antara akademisi, organisasi profesi, dan para pendidik di garis depan. Jika gerakan kolaboratif ini terus diperluas, PAUD di Indonesia tidak hanya akan melahirkan anak-anak yang senang bermain, tetapi juga membentuk generasi yang sejak dini terbiasa berpikir sistematis, mengenali pola, bernalar kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

(Ard/Rdk)

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement