Data menunjukkan disparitas yang mencolok; dari 400 ribu wisatawan per tahun, hanya sekitar 20 ribu orang yang mengunjungi pulau resort, sementara sisanya memadati pulau berpenduduk yang perputaran uangnya relatif kecil.
Sonti melihat potensi besar di Kepulauan Seribu, mulai dari keindahan pantai, sejarah, hingga alam bawah laut. Terlebih, DKI Jakarta kini berfokus pada kegiatan Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE) sebagai mesin penggerak ekonomi.
“Mereka (peserta MICE) ini butuh leisure (santai) dan itu hanya ada di Kepulauan Seribu. Dan tentu wisatawan yang berkualitas yang datang ke sini,” ujarnya.
Pergeseran fokus ini diharapkan juga meningkatkan kualitas produk yang dijual oleh pelaku usaha lokal. Saat ini, banyak pedagang hanya menjual produk saset atau makanan ringan karena perputaran uang yang kecil.
“Kalau yang datang dan meninggalkan uang banyak tentu yang dijual pedagang lebih berkualitas. Kami berharap ini menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan kualitas pariwisata di daerah kepulauan,” tutup Sonti.
(AD/Rdk)



