Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Mengenal Hantavirus: Ancaman Kesehatan dari Paparan Tikus yang Perlu Diwaspadai

Kesehatan  

Foto: ilustrasi. (Dok. RS Sari Asih Group)
Advertisement

KESEHATAN – Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit infeksi emerging, Hantavirus menjadi salah satu penyakit zoonosis yang mulai mendapat perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan gangguan berat pada paru maupun ginjal.

Dokter RS Sari Asih Sangiang, dr. Siti Nur Rokhmah Firda Fauziyah, menjelaskan bahwa Hantavirus bukanlah penyakit baru, namun masih sering terlambat dikenali karena gejala awalnya menyerupai flu biasa, demam berdarah, atau leptospirosis.

“Yang perlu diwaspadai adalah perburukannya bisa sangat cepat, terutama bila sudah menyerang paru atau ginjal,” jelas dr. Firda.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan kelompok virus RNA dari genus Orthohantavirus yang secara alami dibawa oleh rodensia seperti tikus dan celurut. Pada manusia, virus ini dapat menyebabkan dua manifestasi utama, yaitu:

1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS): Menyerang paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan berat.

2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Menyerang pembuluh darah dan ginjal sehingga dapat menyebabkan gagal ginjal akut.

Menurut dr Firda, sebagian besar kasus Hantavirus ditularkan dari hewan ke manusia, bukan antar-manusia. Namun, terdapat pengecualian langka pada strain Andes virus yang dilaporkan dapat menular antarmanusia melalui kontak erat.

Bagaimana Hantavirus Menular?

Penularan utama Hantavirus terjadi melalui inhalasi partikel virus dari urine, feses, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur dengan debu di udara.
Menurut dr. Firda, kondisi ini sering terjadi saat seseorang membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan.

Baca juga:  Metode Atur Jarak Kelahiran Melalui KB

“Gudang, loteng, rumah kosong, area pasca banjir, atau tempat yang banyak aktivitas tikus menjadi lokasi berisiko tinggi,” ujarnya.

Beberapa faktor risiko penularan antara lain:

• Membersihkan gudang atau ruangan tertutup tanpa masker.
• Menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus.
• Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang mata, hidung, atau mulut.
• Kontak langsung dengan tikus atau sarangnya.
• Aktivitas di area pertanian, perkebunan, atau lingkungan pasca banjir.

Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal Hantavirus sering tidak khas dan menyerupai infeksi virus biasa, sehingga diagnosis kerap terlambat. Fase awal biasanya ditandai dengan:

• Demam tinggi
• Nyeri otot berat
• Sakit kepala
• Tubuh lemas
• Mual atau diare

Pada tipe HPS, dalam beberapa hari pasien dapat mengalami:

• Batuk
• Sesak napas progresif
• Penumpukan cairan di paru
• Syok hingga gagal napas akut

Sedangkan pada tipe HFRS, pasien dapat mengalami:

• Nyeri perut atau pinggang
• Penurunan produksi urine
• Gangguan ginjal akut
• Perdarahan atau trombosit turun

Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa HPS memiliki angka kematian yang tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 60%, sementara HFRS berkisar 5–15% tergantung jenis virusnya.

Kondisi Hantavirus di Indonesia

Meski masih jarang terdengar, Hantavirus sudah ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sejak tahun 2024 hingga Mei 2026 telah ditemukan 23 kasus konfirmasi HFRS di sembilan provinsi di Indonesia.

Selain itu, penelitian juga menemukan keberadaan Seoul virus pada rodensia di Indonesia, termasuk laporan spesies lokal yang disebut “Serang Virus”.

Baca juga:  PAFI Indonesia: Mengukuhkan Peran Ahli Farmasi dalam Pelayanan Kesehatan Nasional

Karena gejalanya mirip dengan dengue, leptospirosis, atau pneumonia berat, para ahli menduga masih banyak kasus yang belum terdiagnosis.

Cara Mencegah Hantavirus

Lebih jauh, dr. Firda menganjurkan pencegahan utama adalah mengurangi kontak dengan tikus dan membersihkan lingkungan secara aman.

Berikut langkah pencegahan yang dianjurkan:

1. Jaga Kebersihan Rumah

• Simpan makanan dalam wadah tertutup.
• Buang sampah secara rutin.
• Hindari penumpukan barang yang bisa menjadi sarang tikus.

2. Tutup Akses Tikus

• Perbaiki lubang di dinding, atap, atau saluran air.
• Tutup celah kecil tempat tikus masuk.

3. Bersihkan dengan Aman

Jika menemukan kotoran tikus:
• Jangan disapu kering atau menggunakan vacuum cleaner.
• Ventilasi ruangan terlebih dahulu minimal 30 menit.
• Semprotkan disinfektan atau larutan klorin.
• Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan.

4. Gunakan APD Saat Bersih-Bersih

Gunakan masker terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau area berdebu yang lama tertutup.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri apabila mengalami:
• Demam tinggi setelah terpapar lingkungan banyak tikus,
• Sesak napas,
• Nyeri otot berat,
• Penurunan jumlah urine,
• Atau kondisi tubuh memburuk dengan cepat.

Diagnosis dini dan penanganan suportif yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi berat.

“Jangan menunggu gejala menjadi berat. Jika ada riwayat paparan tikus dan keluhan yang mengarah ke infeksi, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan,” pesan dr. Firda.

(Mad/Rdk)

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement