INFOTANGERANG.CO.ID – Ratusan Warga Kabupaten Tangerang- Banten, yang didominasi Emak-emak mengepung Gedung DPRD, di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten, Kecamatan Tigaraksa, Kamis 7 April 2026.
Mereka tergabung dalam GMPKP, atau Gabungan Masyarakat Pemerhati Kebijakan Publik memprotes lonjakan harga BBM non-subsidi, khususnya Bio Solar yang kini menembus Rp27.900 per liter.
Harga itu kini naik, Rp13.400 per liter dari sebelumnya Rp14.500. Ini, dinilai sebagai lonceng kematian bagi ekonomi rakyat kecil dan sektor logistik di daerah.
Berbekal mobil komando dan berbagai atribut protes lainnya, Massa yang terdiri dari gabungan LSM seperti PPUK, MAPAN, SEROJA, BP2A2N, GERAM BANTEN, PIK RATA, dan MATAHARI, menyatakan tuntutannya.
Koordinator Aksi, Alamsyah, menilai pemerintah telah melakukan ‘pemiskinan sistematis’. Katanya, gejolak geopolitik global hanyalah dalih untuk menutupi ketidakpekaan terhadap daya beli domestik.
Pemimpin LSM Geram ini menyebut, Kenaikan Bio Solar jadi Rp27.900 adalah perampokan nyata terhadap kantong rakyat. Sementara pejabat kita tetap tenang karena bensin mereka ditanggung negara.
“Rakyat harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapati stok solar habis. Jangan jadikan Selat Hormuz alasan yang berlebihan untuk membebankan semuanya kepada kami,” ujarnya.
Berikut tuntutan aksi masa hari ini yang harus segera dipenuhi oleh pemerintah:
1. Mendesak pemerintah meninjau kembali kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi yang tidak masuk akal.
2. Menuntut solusi konkret untuk stabilitas harga energi tanpa membebankan rakyat



