“Bicara politik adalah penetrasi, dan media siber sangat luar biasa karena bisa masuk langsung ke ruang privat. Sehingga tak bisa ditandingi media manapun,” tutur Dodi.
Selain itu masih kata Dodi, media siber juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan termasuk para pengurus partai untuk melihat rekam jejak orang yang akan dipilih atau diusungnya.
“Di media siber footprint atau jejak digital seseorang akan mudah terlihat karena sulit dihapus. Hal ini lah yang membuat media siber sangat efektif untuk menyaring mereka yang akan dijadikan pemimpin.” jelas Dodi.
Namun Dodi mengingatkan, dengan kekuatan tersebut membuat media siber sangat rentan disalahgunakan termasuk untuk mendiskreditkan salah satu paslon dalam Pilkada. Untuk itu Dodi berharap agar para pengelola media siber harus memiliki etika dengan tidak menyebarkan hoaks serta tetap adil dan objektif terhadap semua paslon walaupun tidak bekerjasama dengan medianya.
“yang paling utama adalah pengelola siber tidak menjadi timses dan tetap adil dan objektif dan tidak melakukan black campaign,” imbuhnya. (Dhi/Red)



