“Tang Che biasa diperingati pada pengujung tahun atau akhir tahun, tepatnya pada tanggal 22 Desember Masehi atau menurut kalender penanggalan Imlek tanggal 28 Cap it Gwee, setiap keluarga memakan le yang di kenal dengan onde-onde dalam perayaan ini,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Danrem 052/Wijayakrama, Brigjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar mendapat kehormatan untuk membuka acara sekaligus meninjau Bazaar UMKM Produk dari Kota Tangerang.
“Saya kagum karena masyarakat Neglasari Kota Tangerang tidak melupakan sejarah, walaupun bukan warga Jakarta masyarakat Tangerang masih melestarikan budaya,” kata Brigjen Rano Tilaar.
Menurut Danrem, penyelenggaraan Festival Tang Che merupakan salah satu wujud nyata dari kepedulian masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Tionghoa/China Benteng dalam rangka melestarikan budaya.
“Negara Indonesia kaya akan budaya yang unik dan perlu kita lestarikan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudparman Kota Tangerang, Sumangku Getar mengatakan, Festival Tang Che adalah tradisi perayaan sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas lindungan dan berkahnya.
“Festival Tang Che ini bukti keberagaman budaya yang ada di Kota Tangerang, yang hingga kini masih terus dijaga dan dilestarikan oleh warga Etnis Tionghoa,” ujar Sumangku yang mendampingi Wakil Wali Kota Tangerang, Sachrudin dan Danrem 052/Wijayakrama, Brigjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar saat membuka acara festival.
Sumangku menuturkan, dalam festival yang menerapkan protokol kesehatan ketat ini juga digelar penampilan kesenian budaya leluhur dari Tionghoa berupa tari Cokek, Orhestra Tehyan, Mpe Goyang, lomba membuat onde, dan lomba kebaya Encim. (Fan/Red)



