Gugus peroksida dan monomer siklik terbentuk selama proses oksidasi. Dosis tinggi dari peroksida dapat menyebabkan risiko terjadinya kanker usus besar.
Perlu diketahui, jumlah asam lemak jenuh dalam minyak jelantah jauh lebih tinggi dari pada jumlah asam lemak tidak jenuhnya, karena terjadi reaksi hidrolisis dan oksidasi selama pemanasan saat digunakan untuk menggoreng.
“Asam lemak jenuh sangat berbahaya bagi tubuh kita karena dapat menyebabkan berbagai kondisi fatal, termasuk terjadinya penyakit jantung dan stroke,” ucap Yayu Nidaul Fithriyyah dikutip infotangerang.co.id, Kamis (15/2/2023) dari channel Youtube Yayu Nidaul Health.
Yayu menjelaskan, mengonsumsi makanan yang diolah dengan minyak goreng bekas secara berlebihan atau terus menerus, merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah.
“Selain itu, bahaya penggunaan minyak jelantah bisa menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan dan diare,” ujarnya.
(Rdk)



