Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Subkultur Ojol: Metamorfosis Raja Jalanan Menjadi Kekuatan Pengubah Baru

Berita, Opini  

Ojol
Sejumlah pengemudi ojek daring mengikuti aksi di depan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Advertisement

INFOTANGERANG.CO.ID – Penghujung Agustus hingga awal September 2025 menjadi babak baru dalam sejarah pergerakan sosial di Indonesia. Setelah puluhan tahun didominasi oleh subkultur mahasiswa, buruh, dan petani, kini publik menyaksikan kelahiran kekuatan politik jalanan yang tak terduga: pengemudi ojek online (ojol).

Momentum ini mencapai puncaknya setelah insiden tragis yang menimpa salah satu pengemudi ojol, Affan Kurniawan, yang gugur saat bertugas mengantar pesanan pelanggan di tengah gelombang protes atas kinerja Pemerintah dan DPR.

Kematian Affan memicu gelombang solidaritas dan aksi unjuk rasa masif dari pengemudi ojol di Jakarta dan berbagai kota, menegaskan bahwa subkultur yang lahir sejak 2010 ini telah bermetamorfosis menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan.

Jika di masa-masa awal kehadiran Gojek 15 tahun silam, para pengemudi ojol sering kali menjadi korban gesekan dengan pengojek pangkalan, kini mereka menjelma menjadi mobilisator massa yang cepat dan tak terbendung. Kecepatan gerak mereka di jalanan dinilai mampu melampaui mobilitas kelompok aktivis tradisional, bahkan kecepatan respons aparat pemerintah.

Baca juga:  Gunung Padang Dipastikan Berusia 6.000 SM, Lebih Tua dari Piramida Mesir

Kekuatan Digital dan Kaum Terdidik di Balik Aksi Ojol

Apa yang membuat ojol kini menjadi kekuatan politik yang begitu dinamis? Jawabannya terletak pada empat sumber daya unik yang dimiliki subkultur ini:

1. Migrasi Kaum Terdidik

Subkultur ojol mengalami migrasi besar-besaran kaum terdidik pasca-pandemi COVID-19. Ketika banyak kelas menengah berijazah sarjana dirumahkan, profesi ojol menjadi pilihan yang paling mudah diakses untuk bertahan hidup.

Fenomena ini mengubah lanskap berpikir di kalangan ojol. Jika sebelumnya pengemudi didominasi oleh lulusan SD hingga SMA, kini masuknya para sarjana membuat ekosistem berpikir ojol menjadi lebih kritis dan sistematis.

Baca juga:  Kepedulian Pemuda Sukadiri: Katar Kecamatan Dampingi Katar Pekayon Berantas Nyamuk di Kampung Ganepo

Berbeda dengan pergerakan buruh atau petani yang seringkali dipimpin oleh aktivis sarjana yang bukan berasal dari latar belakang organik, para ojol sarjana ini adalah bagian organik dari ekosistem tersebut. Hal ini memperkecil jurang antara cita-cita pemimpin dan penggerak di lapangan.

2. Anak Kandung Transformasi Digital

Pengemudi ojol adalah anak kandung transformasi digital. Ponsel pintar adalah perangkat kerja utama mereka, layaknya pedang bagi seorang samurai. Mereka tidak mengalami gegar budaya atau gagap teknologi (gaptek) dalam membaca peta digital atau berinteraksi dengan berbagai aplikasi baru.

Keahlian berselancar di dunia digital sama gesitnya dengan kelihaian mereka meliuk-liuk di jalanan ibu kota yang padat, memungkinkan koordinasi yang super cepat.

3. Mobilitas Tinggi dengan Biaya Murah

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement