Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iklan


Subkultur Ojol: Metamorfosis Raja Jalanan Menjadi Kekuatan Pengubah Baru

Berita, Opini  

Ojol
Sejumlah pengemudi ojek daring mengikuti aksi di depan Gedung DPR, Jakarta, Rabu (17/9/2025).
Advertisement

Secara teknis, ojol memiliki mobilitas yang akseleratif berkat kendaraan roda dua yang efisien biaya. Ketika sebuah tujuan kritis harus diterjemahkan menjadi aksi di jalanan, pengemudi dari berbagai penjuru kota dapat berkumpul serentak dengan biaya bensin kurang dari Rp100.000. Sumber daya ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan hambatan mobilisasi yang dialami oleh mahasiswa, buruh, atau petani.

4. Fleksibilitas Waktu

Ojol menikmati fleksibilitas waktu yang tinggi, layaknya pemilik saham yang merdeka mengatur jam kerjanya. Ketiadaan jam kerja tetap membuat mereka bebas menentukan kapan bekerja dan kapan beristirahat.

Ketika isu krusial muncul, meninggalkan pekerjaan untuk berjuang di jalanan bukanlah halangan sulit. Hal ini berkebalikan dengan buruh yang terikat jam kerja, petani yang terikat musim tanam/panen, atau mahasiswa yang terhambat masa ujian.

Baca juga:  Selamat Jalan Vidi Aldiano, Ikon Pop Tanah Air yang Penuh Inspirasi

Perjuangan Sosial dan Tanggapan Pemerintah

Dengan empat sumber daya unik tersebut, aksi pada Agustus-September 2025 menjadi panggung politik perdana bagi ojol sebagai kelompok terorganisir di era digital.

Kekuatan ini segera menarik perhatian elit politik. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan sinyal pembacaan potensi subkultur ini dengan menemui langsung perwakilan ojol, terlepas dari kontroversi seputar representasi kelompok yang hadir.

Aparat kepolisian pun mengapresiasi situasi tersebut dengan mengambil langkah rekonsiliasi, seperti bertemu dan berbagi simbol perdamaian dengan pengemudi ojol, sebuah upaya untuk mendinginkan suasana pasca-insiden tragis yang terjadi.

Baca juga:  Mendagri Tito Instruksikan Pemda Gelar Gerakan Indonesia ASRI Setiap Selasa dan Jumat

Ojol kini menjelma menjadi organisasi pekerja sektor informal dan alat perjuangan sosial-ekonomi. Sudah sepantasnya pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan mereka.

Pemerintah dapat bekerja sama dengan perusahaan start-up aplikator untuk menyediakan jaminan-jaminan sosial, seperti fasilitas asuransi tenaga kerja dan kesehatan, agar subkultur ojol dapat hidup lebih sejahtera dan memberi sumbangsih yang lebih besar kepada masyarakat.

Selamat datang, subkultur baru! Subkultur ojol telah tiba, mengubah peta pergerakan sosial-politik di Indonesia.

*) Artikel ini ditulis oleh Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Generasi Muda Mathla’ul Anwar.

(AD/Rdk)

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement