Sistem tanam yang digunakan adalah tumpang sari, di mana beragam tanaman seperti jahe, kencur, pisang, jagung, dan padi huma ditanam dalam satu lahan. Ini memungkinkan petani mendapatkan penghasilan secara berkala, baik bulanan, triwulanan, hingga tahunan.
Petani Muda Berinovasi, Jaminan Kualitas Tanpa Pupuk Kimia
Generasi muda Badui juga turut berperan aktif. Santa, Ketua Komunitas Doa Petani Muda Badui, mengatakan organisasinya beranggotakan 25 petani yang menggarap lahan sewa seluas 25 hektare di kawasan hutan Blok Cicuraheum Gunungkencana.
“Kami menanam pertanian di ladang itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi keluarga dan ketahanan pangan,” jelas Santa.
Kualitas produk pertanian Badui pun mendapat pengakuan. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menjamin bahwa kencur Badui memiliki kualitas lebih baik karena tidak menggunakan pupuk kimia.
“Kami menjamin kualitas kencur Badui lebih baik tanpa menggunakan pupuk kimia,” pungkas Deni, menegaskan bahwa hasil pertanian Badui bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga simbol dari pertanian yang alami dan berkelanjutan.
(AD/Rdk)



