Close Ads

Iklan - Scroll untuk membaca artikel ↓

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Advertisement


Alpiyah Janda Anak Lima Tidak Punya Tempat Tinggal, Berharap Punya KTP, KK dan Akte Kelahiran

Kabupaten Tangerang  

Alpiyah dan anaknya tinggal di rumah pemberian tetangga, berharap punya KTP, KK dan Akte Kelahiran agar kelak anak-anaknya dapat bersekolah. (Dok. infotangerang.co.id)
Advertisement

KABUPATEN TANGERANG – Alpiyah (41) seorang janda beranak 5 asal Kampung Kamuning RT 001 RW 003 Desa Benda, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, Banten.

Alpiyah dan anak-anaknya hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, butuh perhatian pemerintah setempat.

Hidup dengan kemiskinan itulah yang membuat Alpiyah tidak mempunyai tempat tinggal. Bahkan dia terpaksa menempati sebuah rumah warga sekitar yang sudah lapuk dan tidak layak huni.

Alpiyah menceritakan, sebelumnya dirinya bersama suami dan kelima anaknya tinggal di Kabupaten Serang. Namun, karena suaminya menikah lagi akhirnya Alpiyah berpisah sekitar setahun yang lalu.

Usai bercerai, Alpiyah kembali tinggal di tempat kelahirannya di Kampung Kamuning bersama kelima anaknya.

Karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal dan tidak mempunyai tempat tinggal, warga pun merasa iba kepada dirinya hingga diberikan tempat tinggal di rumah salah satu warga yang sudah lama tidak dihuni.

Baca juga:  Rakor Penanganan Pandemi Covid-19, Dandim 0510 Tigaraksa: Kita Akan Lakukan Rapid Test

Bahkan yang lebih miris lagi, Alpiyah tidak memiliki dokumen kependudukan, baik Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK).

“Gak diurus karena terhambat biaya mau urus KTP, KK dan Akte Kelahiran, akibat suami yang menikah lagi dengan orang lain dia tidak pernah memberikan nafkah untuk kelima anak saya,” kata Alpiyah kepada wartawan di kediamannya, Senin (22/8/2022).

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, Alpiyah dan kelima anaknya mereka harus bergantung dengan hasil jerih payah sebagai kuli cuci dan gosok pakaian dengan upah tak menentu.

“Jadi kuli cuci dan gosok terkadang dibayar Rp 30 ribu itu pun hanya sesekali,” ucapnya.

“Bekerja sebagai buruh cuci dan setrika pakaian untuk menghidupi kelima anak saya. Itu pun kalau pas dipinta oleh warga sekitar, itu pun tidak tiap hari,” jelas Alpiyah.

Baca juga:  Sambut HPN 2023, PWI Kabupaten Tangerang Tanam 1.000 Pohon Mangrove di Pesisir Utara Kabupaten Tangerang

Alpiyah berharap kepada pemerintah desa untuk membantu dirinya agar mendapat identitas kependudukan dan akte kelahiran anak-anaknya.

“Saya mohon kepada pemerintah desa atau siapa saja untuk bisa membantu beban penderitaan yang kami alami, terutama agar dapat memiliki KTP dan KK serta Akte Kelahiran agar nantinya anak-anak bisa mengenyam pendidikan,” tuturnya.

“Tak jarang saya menahan tangis lantaran tidak bisa memenuhi kebutuhan makan, jajan dan belanja sehari-hari untuk anak-anak,” tambah Alpiyah.

Anak bungsu Alpiyah masih berusia 2 tahun, setiap hari butuh asupan ASI. Sedangkan anak pertamanya masih berusia 13 tahun. Dia putus sekolah sampai kelas 6 SD karena keterbatasan biaya.

Alpiyah dan anak-anaknya mengaku sering tidak ada uang sama sekali untuk membeli beras, hingga terkadang dia pinjam ke tetangga yang merasa iba kepada dirinya.

(Jar/Rdk)

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement