“Jadi kuli cuci dan gosok terkadang dibayar Rp 30 ribu itu pun hanya sesekali,” ucapnya.
“Bekerja sebagai buruh cuci dan setrika pakaian untuk menghidupi kelima anak saya. Itu pun kalau pas dipinta oleh warga sekitar, itu pun tidak tiap hari,” jelas Alpiyah.
Alpiyah berharap kepada pemerintah desa untuk membantu dirinya agar mendapat identitas kependudukan dan akte kelahiran anak-anaknya.
“Saya mohon kepada pemerintah desa atau siapa saja untuk bisa membantu beban penderitaan yang kami alami, terutama agar dapat memiliki KTP dan KK serta Akte Kelahiran agar nantinya anak-anak bisa mengenyam pendidikan,” tuturnya.
“Tak jarang saya menahan tangis lantaran tidak bisa memenuhi kebutuhan makan, jajan dan belanja sehari-hari untuk anak-anak,” tambah Alpiyah.
Anak bungsu Alpiyah masih berusia 2 tahun, setiap hari butuh asupan ASI. Sedangkan anak pertamanya masih berusia 13 tahun. Dia putus sekolah sampai kelas 6 SD karena keterbatasan biaya.
Alpiyah dan anak-anaknya mengaku sering tidak ada uang sama sekali untuk membeli beras, hingga terkadang dia pinjam ke tetangga yang merasa iba kepada dirinya.
(Jar/Rdk)



