“Alasan kedua, sebagai ASN Bahtiar memahami batasan dalam mengelola sumber daya manusia di DKI Jakarta, meskipun hanya di masa transisi, hal ini agar seluruh sumber daya di DKI Jakarta tetap bekerja sebagaimana seharusnya, tidak dijadikan sebagai alat dukungan politik di 2024, karena Bahtiar tentu tidak miliki kepentingan politis itu,” jelas Dedi.
Untuk diketahui, nama pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada 16 Januari 1971 itu mencuat sebagai kandidat PJ Gubernur DKI Jakarta setelah dalam rapat pimpinan gabungan (rapimgab) DPRD DKI Jakarta yang digelar pada Selasa 13 September 2022 memperoleh dukungan enam suara dari total sembilan fraksi yang ada di DPRD.
Nama Bahtiar baru muncul ke permukaan sebagai calon PJ Gubernur DKI di detik-detik terakhir untuk memimpin ibu kota usai Gubernur DKI Anies Baswedan habis masa jabatannya pada 16 Oktober 2022.
(Rdk)



