Close Ads
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Jeritan Ruang Redaksi di Tengah Gempuran Digital: Kisah SMSI dan Pertarungan Mencari Ruang

Berita  

Suara Kita
Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus di sebuah podcast Suara Kita.
Advertisement

 

INFOTANGERANG.CO.ID – Dalam riuhnya hiruk pikuk menuju Indonesia Emas 2045, sebuah suara lantang muncul dari ruang redaksi, menyuarakan alarm keras tentang nasib media siber di Tanah Air.

Firdaus, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), sebuah organisasi yang mengklaim diri sebagai asosiasi media siber terbesar di Indonesia menyatakan kegelisahan yang mendalam. Selama sepuluh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Firdaus merasa bahwa SMSI justru “dianggap musuh”.

Kekhawatiran ini bukan sekadar persoalan organisasi, melainkan menyangkut misi besar menyejahterakan rakyat. Dalam sebuah podcast, “Suara Kita,” di kantor bersama SMSI Tangerang Raya, pada Jumat, 26 September 2025 lalu, Firdaus bahkan melontarkan kritik tajam terhadap lembaga penjaga profesi, “Kalau fungsi Dewan Pers seperti itu, saya berpikir Dewan Pers dibubarkan.”

Baca juga:  Sinergi KNPI-PIK 2 Gelar Seminar Kesehatan Diabetes, Jangkau Warga Disabilitas

Bagi Firdaus, jika 3.000 anggotanya “mati semua,” cita-cita mulia Indonesia Emas 2045 akan terhambat. Prinsipnya sederhana: dalam sebuah demokrasi, semua suara layak didengar.

Awal yang Berpijar dari Kegelisahan Para Senior Pers

Kisah kelahiran SMSI tidak bermula dari perumusan yang seremonial, melainkan dari kegelisahan beberapa jurnalis senior yang merupakan fungsionaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sekitar tahun 2016, mereka menyadari masa jabatan akan berakhir dan membutuhkan wadah baru.

“Kita enggak mungkin nanti berkumpul di organisasi purnawirawan TNI. Terus enggak mungkin juga di organisasi purnawirawan Polri atau Korpri,” kenang Firdaus, yang kala itu menjabat Ketua PWI Provinsi Banten. Aktif juga di Serikat Perusahaan Pers (SPS), ia lantas menggagas pembentukan organisasi media siber sebagai tempat “bermigrasi” bagi para mantan aktivis PWI.

Baca juga:  Solidaritas Korban Penembakan, DKI Beri Warna Bendera New Zealand di JPO GBK

Gagasan ini ternyata sudah ia ujicoba jauh sebelum industri digital masif, tepatnya pada 2007, saat ia mencoba meluncurkan koran online seperti Koran Banten. Usaha itu gagal karena ketiadaan pendanaan dan belum adanya tren yang mendukung.

Titik Balik dan Kelahiran Sebuah Gerakan Nasional

Titik balik datang pada 2016. Ide Firdaus mendapat respons positif dari tokoh pers nasional seperti Teguh Santosa. Melalui serangkaian pertemuan intensif, lahirlah Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

Misi awalnya sangat terstruktur: urusan bisnis dan usaha media dikelola di SMSI, sementara urusan profesionalisme dan konten jurnalistik tetap menjadi domain PWI. Konsep ini dirumuskan untuk menjaga silaturahmi dan peran para senior pers di tengah arus digitalisasi.

Iklan

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement