INFOTANGERANG.CO.ID – Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kepulauan Seribu secara tegas menyatakan akan mengubah fokus pengembangan pariwisata dari pariwisata massal (mass tourism) menjadi pariwisata berkualitas (quality tourism). Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat sektor pariwisata dan memastikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.
Kepala Suku Dinas Parekraf Kepulauan Seribu, Sonti Pangaribuan, mengungkapkan bahwa selama ini fokus pada jumlah kunjungan wisatawan (mass tourism) tidak efektif karena tidak diikuti oleh pergerakan ekonomi yang signifikan.
“Kami ingin wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu benar-benar meninggalkan uang di sini dan membuat perekonomian di sini bergerak kencang,” kata Sonti di Jakarta, Kamis (27/11/2025). “Mereka (wisatawan massal) tidak spending money di sini. Makanya, kita akan ubah kunjungan wisatawan dari mass tourism menjadi quality tourism.”
Menurut Sonti, quality tourism tidak menekankan pada jumlah kepala yang datang, melainkan pada jumlah uang yang mereka habiskan dan dampaknya langsung pada pendapatan masyarakat lokal.
Selama ini, Pemkab Kepulauan Seribu dinilai terlalu banyak memberikan subsidi, seperti tiket kapal dan penyediaan air bersih gratis. Hal ini justru menarik wisatawan yang minim pengeluaran.
“Harusnya yang berlibur ke pulau itu adalah orang berduit yang menghabiskan uang di kepulauan,” tegasnya.
Data menunjukkan disparitas yang mencolok; dari 400 ribu wisatawan per tahun, hanya sekitar 20 ribu orang yang mengunjungi pulau resort, sementara sisanya memadati pulau berpenduduk yang perputaran uangnya relatif kecil.
Sonti melihat potensi besar di Kepulauan Seribu, mulai dari keindahan pantai, sejarah, hingga alam bawah laut. Terlebih, DKI Jakarta kini berfokus pada kegiatan Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE) sebagai mesin penggerak ekonomi.
“Mereka (peserta MICE) ini butuh leisure (santai) dan itu hanya ada di Kepulauan Seribu. Dan tentu wisatawan yang berkualitas yang datang ke sini,” ujarnya.
Pergeseran fokus ini diharapkan juga meningkatkan kualitas produk yang dijual oleh pelaku usaha lokal. Saat ini, banyak pedagang hanya menjual produk saset atau makanan ringan karena perputaran uang yang kecil.
“Kalau yang datang dan meninggalkan uang banyak tentu yang dijual pedagang lebih berkualitas. Kami berharap ini menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan kualitas pariwisata di daerah kepulauan,” tutup Sonti.
(AD/Rdk)


