Penulis: Budi, S.Pd.
(Kasi Binwasdesa Kecamatan Teluknaga & Alumni Jurusan Pendidikan Sejarah UHAMKA Jakarta)
Sejarawan Anhar Gonggong pernah mengingatkan pentingnya menumbuhkan minat baca sejarah di kalangan generasi muda agar tidak kehilangan arah dan kesadaran kebangsaan. Hal tersebut ia sampaikan dalam webinar bertema “Penguatan Nilai-Nilai Sejarah bagi Pemerintah Daerah” yang diselenggarakan oleh Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri (21/10/2025).
Berangkat dari semangat tersebut, penyusunan catatan sejarah dan literasi terbentuknya Kecamatan Teluknaga menjadi wujud harapan serta optimisme dalam merawat ingatan kolektif masyarakat.
1. Asal-Usul Nama dan Akulturasi Budaya
Secara historis, nama Teluknaga berakar dari kedatangan Laksamana Chen Ci Lung asal Tiongkok pada tahun 1407. Kapal perang yang digunakannya memiliki ukiran naga yang khas, sehingga kawasan pesisir tempatnya berlabuh dikenal sebagai “Teluk Naga”.
Kedatangan armada tersebut melalui muara Sungai Cisadane menjadikan Teluknaga sebagai salah satu gerbang utama masuknya pedagang Tiongkok ke Nusantara. Peristiwa ini memicu percampuran budaya yang erat antara tradisi Tionghoa, Betawi, dan Banten.
Hingga kini, jejak kebudayaan tersebut masih terlihat jelas melalui:
- Perahu Naga: Tradisi perlintasan perahu naga di Sungai Cisadane yang menjadi ikon daerah.
- Seni Tari Cokek: Akulturasi seni Betawi dan Tionghoa yang dahulu dibawakan untuk menghibur para saudagar, kini menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan generasi muda.
- Situs Peribadatan: Keberadaan dua vihara bersejarah, yaitu Vihara Tri Maha Dharma dan Vihara Hok Tek Bio.
- Kampung Kali Jaya: Berlokasi di Desa Kampung Melayu Barat, kawasan ini menjadi simbol keharmonisan antara mayoritas warga keturunan Tionghoa dan umat beragama lainnya.
2. Tokoh Lokal: Kisah “Si Ayub” dari Teluknaga
Teluknaga juga menyimpan kisah perjuangan rakyat lewat sosok Syech Al-Ayubi atau yang lebih dikenal sebagai Si Ayub. Beliau adalah jagoan lokal yang memimpin perlawanan rakyat terhadap penindasan penjajah.
Begitu besarnya dampak kepahlawanan Si Ayub bagi masyarakat Teluknaga, kisah perjuangannya bahkan sempat diangkat ke layar lebar pada dekade 1970-an.
3. Dinamika Pasca-Kemerdekaan dan Pembentukan Kecamatan
Perkembangan administratif Teluknaga bergerak dinamis seiring pembentukan pemerintahan pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI:
21 Oktober 1945: Dewan Struktur Tangerang membagi wilayah Tangerang menjadi 4 Daerah Tingkat II dan 13 Daerah Tingkat III. Empat Daerah Tingkat II tersebut dipimpin oleh:
- Tangerang: Sutadikarta (mantan Jaksa Tangerang).
- Curug: Sayitun (mantan Kepala Pertanian Curug).
- Mauk: Haji Ardani (tokoh agama/guru ngaji Rajeg).
- Balaraja: Sanusi (mantan pimpinan Bank Rakyat Tangerang).
Periode 1948–1952: Berdasarkan data arsip Pemprov Jawa Barat (dispudipda.jabarprov.go.id), wilayah Tangerang sempat mengalami transisi kepemimpinan ganda:
- R. Ahyad Pena: Menjabat sebagai Bupati RI pasca-periode Bupati Militer hingga tahun 1952.
- R.B. Nusrat Jayadiningrat: Menjabat sebagai Bupati Pasundan (1948–1950).
Pada rentang waktu tersebut, posisi Gubernur Jawa Barat dipegang oleh Ukar Bratakusumah (1948–1950), lalu dilanjutkan kembali oleh RM Sewaka (1950–1951).
Usulan Penetapan Hari Lahir Kecamatan Teluknaga
Pemerintah Kecamatan Teluknaga di bawah kepemimpinan Camat Kurnia, S.STP., M.Si. (menjabat sejak 16 Juli 2025) mengusulkan penetapan Milad/Hari Lahir Kecamatan Teluknaga.
Berdasarkan kajian historiografi dan data ppidtangerangkab.go.id, pembentukan Pemerintah Kecamatan Teluknaga merujuk pada pelantikan Camat Teluknaga pertama oleh Gubernur Jawa Barat pada 8 Agustus 1950, sejalan dengan pemberlakuan UU Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat.
4. Potensi Geografis dan Ekonomi Strategis
Secara geografis, Teluknaga berbatasan dengan Kecamatan Kosambi di sebelah timur, Kecamatan Pakuhaji di sebelah barat, serta Laut Jawa (akses Kepulauan Seribu) di sebelah utara.
Posisi ini memberikan keunggulan strategis:
- Pariwisata Pesisir: Tanjung Pasir menjadi destinasi penyeberangan favorit menuju Pulau Untung Jawa karena lebih efisien dan ekonomis dibandingkan rute Ancol.
- Penyangga Ekonomi Modern: Akses yang dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, DKI Jakarta, serta kawasan komersial-pemukiman baru PIK 2 menjadikan Teluknaga sebagai potensi besar penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tangerang.
Penutup
Sejarah pembentukan Kecamatan Teluknaga menyajikan gambaran utuh tentang harmoni perpaduan budaya, perjuangan sejarah, dan pergerakan menuju modernitas. Perpaduan antara nilai kebhinekaan, letak strategis, dan toleransi sosial menjadikan Teluknaga layak dijuluki sebagai “Miniatur Tangerang” sebuah kawasan bersejarah yang siap menyongsong masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
(Ard/Rdk)


