TANGERANG – Yayasan Sosial Aing Tangerang berdiri sejak 1 Desember 2017, Yayasan ini fokus bergerak di bidang pelestarian Bahasa Sunda Tangerang, dibentuknya gerakan Aing Tangerang atas dasar semakin berkurangnya minat kalangan masyarakat Sunda Tangerang terhadap Bahasa Ibu mereka yaitu Bahasa Sunda. Gerakan Aing Tangerang sangat konsisten dalam memberikan pengertian kepada khalayak umum bahwa Bahasa Sunda Tangerang bukan Bahasa Sunda Kasar melainkan Bahasa Sunda yang Unik.
Di tanggal 12 Desember kemarin, Yayasan Aing Tangerang merayakan hari jadinya yang ke 4 tahun. Acata turut dihadiri Pembina dari Yayasan Aing Tangerang, Deden Umardani.
Dalam sambutannya Deden memberikan harapannya terhadap gerakan Aing Tangerang ini dalam hal melestarikan dan mempromosikan Bahasa Sunda Tangerang.
“Mun aya urang Jawa katimu jeung urang Jawa daek ngomong Jawa, mun aya urang Batak katimu urang Batak daek ngomong Batak, kuduna urang Sunda Tangerang geh mun katimu kudu daek ngaromong bahasa Sunda Tangerang, Kudu dikuatkeun Jati diri Urang Sunda Tangerang (Jika orang Jawa bertemu orang jawa mau berbicara Bahasa Jawa, orang Batak dengan orang Batak bertemu mau berbicara Batak, seharusnya orang Sunda Tangerang pun kalau saling bertemu harus mau menggunakan Bahasa Sunda Tangerang, harus diperkuat Jatidiri orang Sunda Tangerang),” kata Deden Umardani.
Pria asli Tangerang kelahiran Desa Bojong Kecamatan Cikupa ini juga berkomentar tentang Stigma negatif yang masih menempel tentang Sunda Tangerang. Masih banyak yang berkomentar bahwa Sunda Tangerang itu kasar. Menurutnya kasar itu versi Sunda di luar Tangerang. Masyarakat Sunda di Tangerang tidak bisa dipaksakan mengikuti sistem Bahasa daerah di luar Tangerang.
“Saya oge osok ngomong ka babaraha jalma, lamun aya nu ngomong ‘Aing’ ulah sok dicekanan, kajeun teuing, eta kaunikan Sunda Tangerang, mun dicekanan besing isuk na teu daek ngomong Bahasa Sunda deui (Saya juga sering berbicara ke beberapa orang jika ada yang ngomong ‘Aing’ jangan dimarahi, biarkan, itu keunikan Sunda Tangerang, kalau dimarahi khawatir besoknya tidak mau berbicara Bahasa Sunda lagi),” pungkasnya. (Fan/Red)



