Secara konsep, kebijakan tersebut dinilai baik. Namun dalam praktiknya masih ditemukan sejumlah kendala karena fasilitas utama tetap berada di Mina, sementara jemaah tetap harus berjalan menuju kawasan tersebut untuk melaksanakan mabit.
“Perlu ada evaluasi lebih lanjut terkait tanazul karena dalam praktiknya tidak sesederhana yang dibayangkan. Jemaah tetap menghadapi sejumlah tantangan di lapangan,” ujarnya.
Catatan lain yang menjadi perhatian adalah terkait penerapan istitha’ah kesehatan. Meski standar kesehatan tahun ini dinilai lebih ketat dibanding sebelumnya, Haris menilai masih terdapat jemaah berisiko tinggi yang lolos dan berangkat ke Tanah Suci.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan selama operasional haji berlangsung.
“Ke depan proses istitha’ah kesehatan perlu lebih teliti dan lebih cermat agar risiko di lapangan dapat diminimalisasi,” katanya.
*Petugas Haji Perlu Perkuat Pemahaman Manasik dan Kondisi Lapangan*
Terkait persiapan penyelenggaraan haji tahun 2027, KH Haris menyambut baik langkah pemerintah yang mulai melakukan persiapan lebih awal, termasuk proses seleksi calon petugas haji.
Ia berharap, para petugas tidak hanya dibekali kemampuan administratif dan teknis pelayanan, tetapi juga mendapatkan penguatan pemahaman fikih haji, manasik, serta kondisi lapangan di Makkah, Madinah, dan Armuzna.
“Petugas haji tahun ini sudah bekerja dengan baik. Namun, ke depan, mereka perlu dibekali wawasan manasik yang lebih kuat, pemahaman kondisi lapangan yang lebih matang, serta kemampuan kerja sama tim yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut KH Haris, petugas haji merupakan ujung tombak pelayanan jemaah sehingga perlu memiliki pemahaman yang komprehensif, tidak hanya terkait aspek operasional, tetapi juga aspek ibadah dan ritual yang menjadi inti pelaksanaan haji.
Ia menilai, pembekalan mengenai kondisi riil di lapangan, khususnya saat puncak pelaksanaan haji di Armuzna, harus menjadi bagian penting dalam pelatihan petugas. Dengan demikian, petugas dapat memberikan pendampingan yang tepat ketika menghadapi berbagai situasi yang dialami jemaah.
Selain itu, kemampuan koordinasi dan kerja sama lintas bidang juga perlu terus diperkuat agar pelayanan kepada jemaah semakin efektif.
PP PERSIS optimistis, apabila proses seleksi dilakukan lebih awal dan diikuti pembinaan yang memadai, kualitas petugas haji Indonesia akan semakin meningkat.
“Sehingga mampu mendukung penyelenggaraan ibadah haji yang lebih baik pada masa mendatang,” pungkasnya.
(Ard/Rdk)



