​Risiko penularan ini makin tinggi akibat beberapa faktor, lingkungan dengan sanitasi yang buruk, jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mengonsumsi air yang belum dimasak hingga mendidih, jajan atau membeli makanan di tempat yang kebersihannya tidak terjamin.

​Mengingat gejalanya kerap menyerupai penyakit infeksi lain, diagnosis tipes harus ditegakkan melalui pemeriksaan medis. Selain pemeriksaan fisik, dokter umumnya menyarankan tes laboratorium seperti tes darah lengkap, Tes TUBEX TF, hingga kultur darah sesuai indikasi.

​dr. Yoppi menekankan pentingnya menghabiskan antibiotik sesuai resep dokter. Penghentian obat secara sepihak sebelum waktunya berisiko menyebabkan penyakit kambuh kembali sekaligus memicu resistensi antibiotik.

​Jika diabaikan tanpa penanganan yang tepat, demam tifoid berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti, perdarahan saluran cerna, perforasi (kebocoran) usus, sepsis (komplikasi infeksi yang mengancam jiwa).

​Untuk terhindar dari demam tifoid, masyarakat dianjurkan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah mendasar yang bisa dilakukan antara lain selalu mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang sempurna, memastikan air minum bersih, serta melakukan vaksinasi tifoid sesuai rekomendasi medis.

​”Tipes dapat disembuhkan apabila didiagnosis sejak dini dan ditangani dengan terapi yang tepat. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap demam berkepanjangan hanya sebagai akibat kelelahan tanpa melakukan pemeriksaan medis,” tutup dr. Yoppi.

​(Mad/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *