Close Ads

Iklan - Scroll untuk membaca artikel ↓

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Advertisement


Depresi PHK Massal di Tempat Kerjanya, Buruh di Tangerang Bunuh Diri

Kabupaten Tangerang  

korban bunuh diri (ist)
Advertisement

KABUPATEN TANGERANG – 1 Mei 2020 merupakan Hari Buruh yang biasa disebut dengan istilah May Day. May Day tahun kali ini sangat naas, karena ada berita duka menyelimuti para buruh.

Warga Ampung Ceplak RT01/02, diketahui seorang Buruh Pabrik asal Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, ditemukan tidak bernyawa di rumahnya.

korban meninggal setelah bunuh diri dengan cara memotong urat nadi tangan menggunakan sebilah pisau.

Sementara penyebab korban bunuh diri belum diketahui, namun salah satu kerabat korban mengatakan korban bunuh diri karena depresi banyak yang terkena Pemutusan Hubungan kerja (PHK) di tempat kerjanya.

“Kemungkinan depresi karena di pabrik almarhum banyak yang di-PHK sampe dua ribuan orang, karena almarhum kebanyakan cuti jadi udah ketakutan duluan takut di PHK,” ungkap kerabat dekat korban yang enggan ditulis namanya, Dilansir dari Kabar6.

Baca juga:  Jeritan Hati Pedagang Pasar Lama Kutabumi Minta Pemkab Tangerang Tegas

Korban yang berinisial HTN diketahui bekerja di PT Shyang Yao Fung, berlokasi di kawasan industri Jatiuwung, Kota Tangerang. Pabrik sepatu tersebut slsudah melakukan PHK massal akibat terdampak pandemi Covid-19.

Kerabatnya menduga HTN depresi atas rentetan persoalan yang membelitnya. Tak hanya sang suami, Istri korban yang bekerja di PT PWI Serang telah mengalami kecelakaan hingga patah kaki dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Mungkin juga karena beban di rumahnya, karena kan keadaan istrinya untuk sementara ini belum bisa kerja. Istrinya sudah tiga minggu dirawat di Serang, karena patah tulang akibat kecelakaan waktu dia berangkat kerja pakai angkutan umum,” katanya.

Baca juga:  Keluarga Besar GRIB-Jaya Gelar Halalbihalal dan Penyerahan SK Ketua DPC

“Dia pulang malam habis nengok istrinya di RS. Sebelumnya Almarhum memang udah ngeluh sakit masuk angin. Nah pulang dari situlah ngurung diri di kamar pintu pun dikunci. Karena posisi ruang tamunya gelap jadi gak kelihatan tuh si darah udah ngalir kebawah pintu akhirnya ketahuannya siang jam 9,” sambungnya.

Hingga berita ini diturunkan, awak media berusaha mencoba konfirmasi aparat kepolisian, tetapi Kapolsek Balaraja Kompol Feby Heriyanto saat dihubungi tidak merespon.(Map/Red))

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement