Selain itu, narasumber juga mempertimbangkan kenaikan biaya kuliah yang tentunya didasari oleh inflasi yang terjadi. Mengenai dosen yang dipindahkan ke homebase lainnya, karena masih dalam tahap perkembangan sehingga tidak akan “diganggu gugat.” Alternatif menggunakan tenaga dosen yang sudah ada merupakan upaya kreatif untuk efisien dalam biaya SDM sehingga pada titik awal tidak diperlukan rekrutmen.
Meskipun demikian, Dr. Ali mengingatkan, Universitas perlu mengingat mengenai rasio dosen dengan mahasiswa untuk prodi magister, dengan demikian juga mengingat rasio kecukupan pada prodi lain yang ditinggalkan dosen dari homebase awalnya.
Narasumber menjelaskan, alternatif pembiayaan bagi prodi magister terutama yang sifatnya multidisipliner jelas tidak dapat mengandalkan bisnis biasa. Prodi magister di awal memang cost center tetapi jelas prodi magister didirikan untuk mengedepankan visi dan misi universitas. Dengan demikian, pembiayaan yang kreatif melalui jalur hibah penelitian dan kolaborasi merupakan alternatif yang perlu disusun dengan strategis.
Secara kuantitas dan kualitas, penelitian dan publikasi dari mahasiswa prodi magister merupakan jangkar untuk menarik dana hibah dan kerja sama. Dari sinilah, biaya partisipasi peserta dapat ditekan tetapi indikator untuk produk ilmiah dinaikkan.
Melalui FGD ini, tim penyusun prodi magister Kajian Urban di UPJ mendapatkan manfaat dan ide segar untuk alternatif pembiayaan prodi yang hendak diusulkan oleh universitas ini. UPJ secara konsisten hendak terus menguatkan bidang kajian urban sebagai unggulan universitas. (Fan/Red)



