INFOTANGERANG.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda tercatat merosot 50 poin atau sekitar 0,28 persen ke level Rp17.717 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.667 per dolar AS.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama.

“Pergerakan kurs rupiah masih terpengaruh oleh penguatan dolar AS seiring ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed bertahan lebih lama,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.

Dari faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga bersumber dari sentimen geopolitik di Timur Tengah, termasuk negosiasi AS–Iran, potensi gangguan di Selat Hormuz, serta fluktuasi harga minyak dunia yang turut mendorong penguatan dolar AS.

Arah kebijakan moneter Federal Reserve, indeks dolar AS (DXY), dan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi faktor utama pergerakan rupiah.

Meski demikian, tekanan yang dialami rupiah dinilai masih relatif terbatas. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam gejolak pasar.

Pelaku pasar menyoroti langkah lanjutan BI, termasuk intervensi di pasar valuta asing serta upaya mempertahankan daya tarik instrumen keuangan domestik. “Kondisi fundamental ekonomi seperti inflasi dan cadangan devisa juga akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan,” tambah Amru.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke level Rp17.717 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.673 per dolar AS.

(AD/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *