Rangkaian lomba telah dimulai pada pada 22 Oktober 2021 yang diikuti sebanyak 104 peserta dari 20 Kabupaten/Kota yang tersebar di 7 provinsi, yaitu Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.
“Lomba dibagi dalam dua tahap, tahap pertama peserta mengunggah materi lomba di medsos dengan durasi 8-12 menit. Kemudian Grand Final siswa secara langsung memaparkan materinya dihadapan para juri yang terdiri dari perwakilan Perpusnas, unsur pendongeng dan psikolog,” jelas Meita.
Ada pun materi yang dilombakan bersumber dari buku-buku kisah pahlawan baik yang sudah dipublikasikan atau belum, berupa cerita rakyat yang mengandung muatan lokal legenda perjuangan kepahlawanan atau legenda yang membangun karakter pendidikan karakter bangsa seperti sikap nasionalisme, cinta damai, jujur, disiplin, kerja keras dan lainnya.
“Dalam lomba, peserta diberikan pilihan cerita yang mengangkat latar belakang tokoh, budaya dan peristiwa tempat bersejarah di Kota Tangerang dan Banten, diantaranya sejarah perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa, Nyimas Melati Singa Betina dari Tangerang, Mayor Daan Mogot, Asal usul pendekar Cisadane, Raden Arya Wangsakara, Mpo Ris dan lainnya,” ucapnya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama pada Perpustakaan Nasional, Renus Siboro mengatakan lomba bertutur memberikan dampak berupa kegemaran membaca serta kecintaan terhadap karya budaya bangsa melalui berbagai bacaan atau buku.
“Lomba ini juga mengangkat dan mempopulerkan buku cerita daerah yang mengandung nilai kehidupan yang baik serta membangun karakter bangsa baik buku bernuansa cerita kepahlawanan atau legenda,” tuturnya. (Arf/Red)




