​Ia menambahkan, di era saat jawaban tersedia melimpah dan murah, keunggulan utama manusia justru terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, mempertimbangkan etika, serta memverifikasi data.

Transformasi Peran Perpustakaan Daerah

​Menanggapi paparan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinarpus Kabupaten Pekalongan, Indria Madyawati, SE, MM, menyampaikan apresiasinya. Indria menekankan bahwa tantangan lembaga literasi daerah saat ini telah bergeser dari sekadar menyediakan bahan bacaan fisik menjadi fasilitator kedaulatan kognitif masyarakat.

​”Tantangan literasi masa kini bukan lagi keterbatasan akses terhadap buku atau data, melainkan bagaimana masyarakat mampu bernavigasi secara bijak di tengah banjir informasi,” kata Indria.

​Ia menyetujui bahwa melek digital sesungguhnya adalah kemampuan warga untuk tetap memegang kendali atas pikiran, pilihan, dan keputusan mereka sendiri di tengah kepungan algoritma.

​”Dinarpus Kabupaten Pekalongan terus berupaya menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi yang mengedukasi masyarakat agar makin kritis, terhindar dari manipulasi informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara terarah,” tambah Indria.

​Sebagai penutup, Yoga mengajak publik untuk melakukan evaluasi mandiri (self-audit) atas kebiasaan digital sehari-hari demi menjaga kemandirian berpikir.

​”Teknologi adalah alat yang luar biasa, tetapi majikan yang sangat buruk. Manfaatkan AI dan nikmati media sosial, tetapi jangan pernah menyerahkan kedaulatan berpikir Anda kepada algoritma,” pungkas Yoga.

​(Ard/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *