EKONOMI – Akibat pandemi Covid-19, Somad (45th) seorang pedagang kecil di sekolahan sudah beberapa pekan ini tidak lagi menjajakan dagangannya di SMP Al-Husna Jalan raya PLP Curug, Kabupaten Tangerang.

Akibat kebijakan pemerintah yang mengharuskan aktivitas belajar dan mengajar di rumah karena wabah Covid-19 dirasakan betul oleh Somad. Pria paruh baya ini biasanya berjualan minuman ringan di SMP Al-Husna Curug. Namun, sejak pihak sekolah menerapkan system pembelajaran dari rumah, akibatnya usaha dilakoni Somad terpaksa ikut dirumahkan.

“Sudah tiga minggu lalu saya tidak berjualan, karena anak sekolah diliburin. Lebih baik diem di rumah aja pemasukan tidak adakan,” tutur Somad, Minggu (7/3/2021).

Somad harus memutar otak guna dapur rumah tetap terpenuhi. Kendati langkah kakinya kali ini lebih jauh, dia pun tetap melakoni untuk menjajakan dagangannya. Padahal jarak kediamannya ke sekolah kurang lebih hanya 450 meter.

Akan tetapi, upayanya pun tak membuahkan hasil banyak. Terlebih setelah pemerintah mengimbau masyarakat melakukan kegiatan di rumah dan menjaga jarak, akibatnya minim pemasukan. Somad bersama keluarga terpaksa meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Buat sehari-hari ya saya minjam sana-sini, tabungan juga menipis. Biasanya kalau kerja sehari bisa Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, sekarang kan tidak ada.” jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan Adji Santoso pedagang nasi goreng di Pasar Curug, Kabupaten Tangerang. Sejak pemerintah mengimbau warga beraktivitas di rumah, penikmat nasi gorengnya sepi pembeli. Alhasil, hal itu berdampak kepada pemasukan keluarganya.

Pria yang kerap disapa Aji ini mengatakan, sebelum wabah Covid-19 melanda Indonesia, per hari paling sedikit melayani 10 piring. Akan tetapi sejak Covid-19 pendapatannya merosot tajam.

“Biasanya itu sehari paling sedikit 10 piring, eh sekarang 5 piring aja udah banyak banget. Kadang malah cuma 3 atau 4 piring aja,” ujarnya.

Kesulitan pendapatan juga dirasakan pedagang es dawet di Curug bernama Kasman. Dia mengaku sangat rugi, karena es dawet yang dibuatnya tidak habis terjual, dan hampir setiap hari ia harus membuang dagangannya. Demi kebutuhan sehari-hari, Kasman terpaksa memakai tabungannya.

“Ini aja udah sampe ambil uang dari tabungan Rp 1,5 Juta, ya habis mau gimana lagi. Setiap hari paling banyak cuma 6 gelas yang kejual,” jelasnya.

Masih kata Kasman, menurunnya peminat orang untuk beli es dawet lantaran untuk menghindari virus Corona. Karena masyarakat kini lebih sering meminum air hangat ketimbang air dingin atau es.

“katanyakan kalau lagi gini jangan minum es dan lebih sering minum air hangat. Yang biasanya beli aja sampe bilang lagi enggak minum es dulu, tapi minum air hangat,” ujarnya. (Map/Red)

Source: Anwar Ramadhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *