Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Limbah Tempe Jadi Pupuk, Bagaimana Caranya?

Lifestyle  

Editor: Redaksi

Program Studi Biologi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) mengubah limbah cair hasil produksi tempe menjadi pupuk organik cair (POC). (Dok. infotangerang.co.id)
Advertisement

LIFESTYLE – Industri tempe merupakan industri rumah tangga (IRT) yang banyak dijumpai di Indonesia. IRT ini biasa dilakukan di daerah pemukiman penduduk. Proses produksi tempe membutuhkan jumlah air yang banyak, baik untuk tahap perebusan, perendaman, pencucian maupun peragian.

Kebutuhan jumlah air yang tinggi dalam proses produksi tempe sejalan dengan jumlah limbah cair yang dihasilkan. Limbah cair tersebut berupa air sisa perebusan, perendaman, pencucian serta peragian kedelai yang dibuang langsung ke saluran air di tempat produksi tempe sehingga berpotensi mencemari lingkungan.

Baca juga:  Wonderful Indonesia Diving Directory: Kompas Baru Wisata Selam Berkualitas dan Aman

Program Studi Biologi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) mengubah limbah cair hasil produksi tempe menjadi pupuk organik cair (POC). Berdasarkan hasil penelitian, POC tersebut dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah batang, berat kering batang dan daun tanaman kangkung. POC terbaik dihasilkan dari limbah cair sisa perendaman kedelai.

Baca juga:  Ini Penyebap Dirjen Dukcapil Tertawa Geli Melihat Data KPU

“Limbah cair dari setiap tahapan produksi tempe kami analisis dan hasil analisis menunjukkan bahwa limbah cair ini melebihi baku mutu yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, sehingga kami berinisiatif untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat, salah satunya pupuk organik cair,” kata Analekta Tiara Perdana, salah satu perwakilan Dosen Prodi Biologi UAI.

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement