LIFESTYLE – Industri tempe merupakan industri rumah tangga (IRT) yang banyak dijumpai di Indonesia. IRT ini biasa dilakukan di daerah pemukiman penduduk. Proses produksi tempe membutuhkan jumlah air yang banyak, baik untuk tahap perebusan, perendaman, pencucian maupun peragian.
Kebutuhan jumlah air yang tinggi dalam proses produksi tempe sejalan dengan jumlah limbah cair yang dihasilkan. Limbah cair tersebut berupa air sisa perebusan, perendaman, pencucian serta peragian kedelai yang dibuang langsung ke saluran air di tempat produksi tempe sehingga berpotensi mencemari lingkungan.
Program Studi Biologi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) mengubah limbah cair hasil produksi tempe menjadi pupuk organik cair (POC). Berdasarkan hasil penelitian, POC tersebut dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah batang, berat kering batang dan daun tanaman kangkung. POC terbaik dihasilkan dari limbah cair sisa perendaman kedelai.
“Limbah cair dari setiap tahapan produksi tempe kami analisis dan hasil analisis menunjukkan bahwa limbah cair ini melebihi baku mutu yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, sehingga kami berinisiatif untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat, salah satunya pupuk organik cair,” kata Analekta Tiara Perdana, salah satu perwakilan Dosen Prodi Biologi UAI.

Dosen lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan mikrobiologi ini mengajak mahasiswanya untuk memberdayakan masyarakat yaitu perajin tempe di Kampung Tempe, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang untuk melakukan pengolahan limbah cair hasil produksi tempe menjadi pupuk. Saat ini limbah cair hasil produksi tempe di Kampung Tempe Kota Tangerang diperkirakan mencapai 500-2000 liter per hari. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan agar kondisi saluran air di sekitar kampung tempe tidak menjadi keruh, hitam, dan berbau menyengat.
“Kalau limbah padatnya biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah cairnya dibuang langsung ke lingkungan. Pengolahan limbah ini diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah cair yang dibuang ke saluran air, sehingga bau busuk hilang dengan sendirinya. Harapannya IRT tempe dapat menjadi usaha yang lebih berwawasan lingkungan,” ujar Lekta. (Fan/Red)



