“Ini pertanyaan pada ibu-ibu dan bapak-bapak dari Banten ya. Yang dikatakan Pak Junus tadi tentu menjadi perhatian kami, karena tidak kontekstual antara yang satu dengan yang satunya lagi,” ujar dia.
“Yang membuat jirah itu, yang tadi keramik itu siapa?, mengapa?, dan kemudian tokoh ini sebetulnya tokoh dari mana?, apakah ada sumber lokal yang menceritakan buyut jenggot itu?. Karena itu kan nama julukan ya bukan nama aslinya. Riwayatnya, sejarahnya secara lokal apakah sudah pernah dilakukan penelitian atas itu?,” sambungnya.
Sementara itu, Siti Aminah penjaga Makam Mbah Buyut Jenggot yang juga dimintai keterangan dalam rapat itu menjelaskan bahwa dirinya tahu makam tersebut makam Mbah Buyut Jenggot berdasarkan “pertemuannya” dengan sosok tersebut. Dimana saat itu Mbah Buyut Jenggot memperkenalkan diri ke Siti Aminah.
“Saya mau menjelaskan yang sejelas-sejelasnya yang sebenar-benarnya, tidak ada rekayasa apa apa. Setahu saya dikenal Mbah itu saya udah jalan 40 tahun sampai sekarang ini dikenal bukan karena saya ngenalin, itu yang ngenalin saya cara biasa kaya orang ngomong kita biasa saya ini,” tutur Siti Aminah.
“Saya di kenal disitu dikasih wasiat apapun dikasih sama waliullah itu Mbah Jenggot ya namanya, saya ga bisa ngomong siapa-siapa karena saya dikasih nama itu sama beliau. Cara ngomong biasa kaya kita ini kalau saya ini. Apapun saya diajak bicara sama mbah itu,” jelasnya.
(Mad/Rdk)



