FAKTA menurut dr. Astri Handayani, Sp.PD: Hasil tes HIV dipengaruhi oleh masa jendela (window period), yaitu waktu yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi antibodi terhadap virus. Jika tes dilakukan terlalu cepat setelah paparan risiko, hasilnya bisa negatif palsu.
Oleh karena itu, tes harus diulang setelah masa jendela (biasanya 3 bulan) atau sesuai saran dokter.
Kunci Pencegahan dan Pengobatan HIV
Lebih jauh dr. Astri Handayani, Sp.PD, menekankan bahwa deteksi dini dan kepatuhan pengobatan adalah kunci utama.
1. Deteksi Dini Melalui VCT
Pemeriksaan melalui Voluntary Counselling and Testing (VCT) adalah cara termudah dan tercepat untuk mengetahui status HIV seseorang. Jika terdiagnosis positif, pengobatan dapat segera dimulai.
2. Pentingnya Terapi ARV
Terapi ARV bukan sekadar obat, tetapi investasi untuk kesehatan jangka panjang dan perlindungan bagi orang lain. Pasien yang disiplin minum ARV akan memiliki kualitas hidup yang baik dan tidak berpotensi menularkan HIV.
3. Pencegahan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis)
Bagi individu yang berisiko tinggi namun belum terinfeksi, ada opsi PrEP (obat yang diminum sebelum terpapar) untuk mengurangi risiko penularan.
Konsultasikan dengan dokter spesialis infeksi untuk mengetahui apakah Anda memenuhi syarat untuk program PrEP.
“Jangan hindari ODHA, hindarilah perilakunya. HIV tidak menular dengan mudah. Dengan dukungan penuh dan kepatuhan pengobatan, ODHA dapat beraktivitas dan berkarya seperti kita semua. Jauhi diskriminasi!”
Ingin Melakukan Tes HIV atau Konsultasi?
Anda dapat berkonsultasi langsung mengenai status HIV/AIDS, VCT, dan pengobatan ARV dengan dr. Astri Handayani, Sp.PD atau dokter spesialis Penyakit Dalam lain di RS Sari Asih Ciledug atau fasilitas kesehatan terdekat.
(Mad/Rdk)



