INFOTANGERANG.CO.ID – Jika Anda bosan dengan rutinitas perkotaan yang membosankan dan ingin merasakan sensasi off-road tanpa harus ke Gunung Salak, cobalah melintas di Jalan Raya Salembaran, tepatnya di depan Perumahan Puri, Teluknaga. Di sana, Pemerintah Provinsi Banten seolah sedang memamerkan instalasi seni “kerusakan permanen” yang dibiarkan tumbuh subur.
Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi penghubung Kosambi dan Teluknaga ini tampak sedang dalam misi “kembali ke alam”. Bukan tanpa alasan, aspal yang dulu menempel kini telah menyerah, menyisakan lubang-lubang menganga yang cukup dalam untuk sekadar menanam pohon pisang atau mungkin menjadi kolam lele dadakan saat hujan turun.
Kondisi estetika yang hancur lebur ini tak luput dari radar Edwin Purnama, Aktivis Pantura Tangerang. Pada Rabu (7/1/2025), Edwin memberikan “penghargaan” berupa kritik pedas atas ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga fasilitas publik. Dalam observasinya, ia menemukan bahwa struktur jalan sudah bukan lagi sekadar rusak, melainkan sedang menuju kehancuran total.
“Aspalnya sudah terkelupas seperti kulit yang terbakar matahari, hancur berkeping-keping. Mungkin pemerintah setempat ingin menguji seberapa kuat shockbreaker kendaraan rakyatnya,” sindir Edwin saat memantau kondisi di lapangan.
Bagi pengendara sepeda motor, melintasi jalur ini adalah pertaruhan nyawa yang sesungguhnya. Lubang-lubang yang mencapai lapisan tanah itu siap menelan ban motor kapan saja. Belum lagi taburan kerikil dan batu lepas yang berfungsi bak “kulit pisang” dalam film komedi membuat pengendara tergelincir saat mencoba mengerem mendadak.
Ironisnya, saat hujan tiba, lubang-lubang ini melakukan penyamaran sempurna. Genangan air keruh menutup kedalaman lubang, menciptakan jebakan Batman bagi mereka yang tidak hafal setiap jengkal “penderitaan” di jalan tersebut.
Lalu lintas logistik yang dipenuhi truk-truk raksasa semakin menambah dramatis suasana. Beban berton-ton yang melindas sisa-sisa aspal setiap hari memastikan bahwa kerusakan ini akan terus bertambah setiap jamnya. Di pinggir jalan, drainase yang buruk dan tumpukan sampah menyapa ramah, seolah mengonfirmasi bahwa kawasan ini memang sedang dianaktirikan.
Masyarakat sekitar sudah kenyang dengan janji-janji manis. Namun, kenyataan di depan mata tetap pahit. Perbaikan setengah hati dengan sistem “tempel-sulam” yang hanya bertahan seminggu sepertinya sudah menjadi tradisi yang dipelihara.
Padahal, yang dibutuhkan warga bukan sekadar tambalan aspal setipis bedak, melainkan betonisasi total. Jika pemerintah tetap memilih untuk “tutup mata”, mungkin warga perlu memasang papan pengumuman baru: “Hati-hati, Anda Sedang Memasuki Kawasan Pengabaian Pemerintah Banten.”
Hingga berita ini diturunkan, “bom waktu” di Jalan Raya Salembaran masih terus berdetak, menunggu korban berikutnya sementara pejabat berwenang mungkin sedang sibuk rapat di ruangan ber-AC yang lantainya tentu jauh lebih mulus daripada jalanan di Teluknaga.
(AD/Rdk)



