Meski demikian, terapi jangka panjang dan mengeksploitasi hubungan antar terapis dan pasien secara berkelanjutan menjadi pengobatan yang cukup baik. Terapi berfokus pada transferensi misalnya psikoanalitik, terapi alternatif serta terapi perilaku kognitif.
Lebih lanjut dr. Andrian menyebutkan, jika perselingkuhan terjadi karena seseorang mengalami gangguan mental atau gangguan kepribadian dapat dilakukan terapi, baik terhadap pelaku, korban atau mengenai nasib hubungan pasca perselingkuhan. Tentunya terapi yang dilakukan adalah terapi komprehensif dan mendalam yang melibatkan pasangan tersebut.
“Hal ini dilakukan untuk mengetahui akar masalah atau motivasi seseorang melakukan perselingkuhan untuk kemudian ditemukan jalan keluarnya,” ujar dr Adrian.
“Gangguan mental, salah satunya gangguan kepribadian dapat diturunkan secara genetik, namun tidak 100 persen sudah pasti keturunannya mengalami gangguan mental yang sama atau gangguan kepribadian, banyak faktor lain yang mempengaruhi sehingga seseorang mengalami gangguan mental atau gangguan kepribadian, sehingga konsultasi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebabnya secara benar,” tandasnya.
Follow Video INFO TANGERANG dan Berita infotangerang.co.id di Google News
(Mad/Rdk)
Video Pilihan Redaksi:



