Firdaus menjelaskan bahwa program Newsroom Jaga Desa merupakan langkah terobosan yang terintegrasi antara SMSI, organisasi kemitraan (Apdesis), dan Kejaksaan. Banten menjadi salah satu daerah percontohan setelah melalui evaluasi dan penyempurnaan dari uji coba sebelumnya di Bali dan Lampung.
Melalui Pokja Jaga Desa, SMSI tidak hanya berperan sebagai fungsi kontrol sosial, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis dalam mendorong transparansi, mediasi, serta pembangunan ekonomi masyarakat desa.
Dalam program ini, Pokja Jaga Desa mengusung beberapa agenda utama, di antaranya:
- Koordinasi Program Jurnalistik dan Kejaksaan: Mendorong keterbukaan informasi publik serta penyelesaian dinamika di desa melalui pendekatan mediasi.
- Pemberdayaan dan Pelatihan Desa Nulis: Memberikan pelatihan jurnalistik bagi aparatur atau perwakilan desa untuk mengelola informasi secara mandiri dan transparan.
- Penyediaan dan Pengelolaan Situs Web Desa: Membantu desa membangun serta memelihara website resmi sebagai sarana publikasi kegiatan dan potensi desa.
- Partisipasi Program Ketahanan Pangan: Mendorong keterlibatan aktif dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti budidaya pangan lokal dan perikanan air tawar (bioflok).
Firdaus berharap Training Center ini dapat menyamakan persepsi dan meningkatkan kompetensi para pengurus Pokja Jaga Desa di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota se-Banten.
“Melalui pemahaman tugas yang matang dan struktur organisasi yang efisien, Pokja Jaga Desa diharapkan dapat langsung bergerak hingga tingkat kecamatan, membawa manfaat nyata bagi masyarakat desa sekaligus memperkuat posisi media siber lokal,” pungkasnya.
(Ard/Rdk)


