“Mungkin ini fasilitas simulasi off-road gratis dari pemerintah,” sindir salah satu warga dengan motor yang sudah “estetik” penuh percikan lumpur. “Jalannya sudah rusak sejak era prasejarah, tapi mungkin karena dianggap peninggalan sejarah, jadi dibiarkan tetap orisinal.”
Lambannya respons evakuasi yang hampir menyentuh angka 12 jam ini menjadi prestasi tersendiri bagi pihak-pihak terkait. Tanpa kehadiran alat berat, truk tersebut kini resmi beralih fungsi menjadi monumen pengingat akan darurat infrastruktur di Kabupaten Tangerang. Kehadirannya bukan sekadar penghambat arus, melainkan sebuah sindiran visual bahwa jalur ini sebenarnya sudah kehilangan martabatnya sebagai jalan raya.
Sampai berita ini diturunkan, bantuan alat berat masih menjadi misteri. Warga hanya bisa mengurut dada sembari berharap evakuasi segera dilakukan, sebelum truk oranye tersebut benar-benar menyatu dengan alam dan menjadi fosil di tengah kubangan abadi Cirarab.
(AD/Rdk)


