INFOTANGERANG.CO.ID – Masyarakat adat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, kembali menunjukkan kemandirian ekonomi mereka melalui sektor pertanian. Kencur dan jahe, dua komoditas andalan dari hasil ladang, menjadi penopang utama pendapatan keluarga.
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, mengungkapkan bahwa aktivitas tanam kencur, jahe, dan pisang kini sedang digencarkan seiring masuknya kalender adat bulan kedelapan.
“Masyarakat Suku Badui sejak sepekan terakhir beramai-ramai untuk melaksanakan percepatan tanam kencur, jahe, dan pisang, karena memasuki kalender adat bulan delapan,” ujar Medi.
Menurut Medi, ketiga komoditas ini telah lama menjadi unggulan ekonomi bagi 7.500 kepala keluarga (KK) Badui yang tersebar di 68 perkampungan. Masa panennya yang relatif cepat, sekitar satu tahun, membuat komoditas ini menjadi pilihan utama.
Harga Komoditas Meroket, Janjikan Kesejahteraan Petani
Harga kencur dan jahe di tingkat petani saat ini terbilang menjanjikan. Medi menyebut, harga kencur mencapai Rp25.000 per kilogram, sementara jahe dibanderol Rp15.000 per kilogram. Pendapatan ini menjadi bukti nyata potensi ekonomi dari hasil ladang mereka.
“Saya kira komoditas kencur saja sudah bisa membawa kesejahteraan keluarga dan belum ditambah pendapatan tanaman lainnya,” kata Medi.
Seorang petani Badui bernama Pulung berbagi pengalamannya. “Tahun lalu kami menghasilkan panen empat kuintal kencur dan dijual Rp25.000 per kg, sehingga mendapatkan uang Rp10 juta,” ungkapnya.
Sistem tanam yang digunakan adalah tumpang sari, di mana beragam tanaman seperti jahe, kencur, pisang, jagung, dan padi huma ditanam dalam satu lahan. Ini memungkinkan petani mendapatkan penghasilan secara berkala, baik bulanan, triwulanan, hingga tahunan.
Petani Muda Berinovasi, Jaminan Kualitas Tanpa Pupuk Kimia
Generasi muda Badui juga turut berperan aktif. Santa, Ketua Komunitas Doa Petani Muda Badui, mengatakan organisasinya beranggotakan 25 petani yang menggarap lahan sewa seluas 25 hektare di kawasan hutan Blok Cicuraheum Gunungkencana.
“Kami menanam pertanian di ladang itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi keluarga dan ketahanan pangan,” jelas Santa.
Kualitas produk pertanian Badui pun mendapat pengakuan. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menjamin bahwa kencur Badui memiliki kualitas lebih baik karena tidak menggunakan pupuk kimia.
“Kami menjamin kualitas kencur Badui lebih baik tanpa menggunakan pupuk kimia,” pungkas Deni, menegaskan bahwa hasil pertanian Badui bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga simbol dari pertanian yang alami dan berkelanjutan.
(AD/Rdk)



