INFOTANGERANG.CO.ID – Forum Masyarakat Peduli Pakuhaji (FOMPPA) melakukan aksi nyata dengan memasang puluhan baliho dan spanduk protes di sepanjang Jalan Raya Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Langkah ini diambil sebagai bentuk mosi tidak percaya warga terhadap operasional kendaraan bertonase besar yang dianggap merusak infrastruktur dan mengancam kesehatan publik.

Kehadiran truk-truk bermuatan berat tersebut dituding menjadi penyebab utama hancurnya aspal jalan. Kondisi ini memaksa warga bertaruh nyawa setiap kali melintasi jalur yang kini dipenuhi lubang dan gelombang ekstrem.

Koordinator aksi FOMPPA, Mantri Manap, menjelaskan bahwa warga kini terjepit di antara dua kondisi yang sama-sama membahayakan. Pada musim hujan, jalanan berubah menjadi lintasan lumpur yang licin dan rawan kecelakaan. Sebaliknya, pada musim kemarau, polusi debu pekat menyelimuti kawasan pemukiman.

“Masyarakat kini dihantui risiko Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat debu jalanan yang sangat tebal. Ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, tapi sudah mengancam nyawa warga Pakuhaji,” tegas Manap.

Tuntutan Tegas kepada Pemerintah

Aksi ini merupakan desakan langsung kepada Pemerintah Kecamatan Pakuhaji dan dinas terkait untuk segera melakukan intervensi. Aktivis setempat, Ibrohim atau Ibo, menyatakan bahwa pemerintah daerah harus segera mengambil langkah konkret sebelum korban jiwa terus berjatuhan.

Terdapat tiga poin utama yang menjadi tuntutan warga dalam aksi ini:

  1. Pengetatan Jam Operasional: Larangan bagi truk besar untuk melintas secara bebas di jam sibuk masyarakat.
  2. Audit Tonase: Penindakan tegas terhadap kendaraan yang melebihi kapasitas beban jalan (overload).
  3. Percepatan Infrastruktur: Perbaikan jalan secara permanen dan menyeluruh agar layak dilalui kendaraan ringan.

Simbol Perlawanan Masyarakat

Meski aksi dilakukan dengan tertib, pemasangan atribut ini menjadi simbol keresahan kolektif masyarakat yang telah mencapai puncaknya. Dukungan yang mengalir dari berbagai elemen menunjukkan bahwa kebutuhan akan akses jalan yang manusiawi sudah tidak bisa ditawar lagi.

Warga berharap melalui gerakan ini, pemerintah pusat maupun daerah tidak lagi menutup mata terhadap dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan oleh aktivitas transportasi industri di wilayah Pakuhaji.

(AD/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *