Close Ads
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Banten Dikepung Potensi Bencana, Wartawan dan Aktivis Dalami Jurnalisme Profetik

Banten  

Aat Surya Safaat, salah satu wartawan senior saat menjadi narasumber Diskusi dan Pelatihan Jurnalis Lingkungan Hidup. (Foto: Istimewa)
Advertisement

Saat merespon isu lingkungan dan kebencanaan, Aat berpesan kepada peserta pelatihan agar mampu membangkitkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan di bumi. Karya jurnalistik wartawan diharapkannya mampu melahirkan cara pandang ekosentrisme, yaitu pandangan hidup yang menyelaraskan diri dengan alam semesta.

Pandangan hidup demikian telah diwariskan oleh para leluhur di Nusantara. Di Banten tercermin dalam adat istiadat orang Kanekes (Baduy).

Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ekosentrisme tergeser oleh pandangan antroposentrisme dimana manusia menjadi pusat alam semesta, sehingga mengklaim sebagai penguasa alam semesta. Celakanya, cara pandang ini justru telah berdampak pada kerusakan lingkungan hidup yang melahirkan berbagai bencana.

Baca juga:  Semeru Kembali Luncurkan Awan Panas dan Banjir Lahar, Status Masih Siaga

“Dengan pendekatan jurnalisme profetik, kita diingatkan kembali bahwa tugas jurnalis tidak sekedar melakukan tugas-tugas jurnalistik seperti yang dikenal saat ini. Tapi, jauh lebih dalam, yaitu menjaga dan merawat kehidupan agar tetap selaras dengan gerak alam semesta,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Pelaksana Kegiatan, Mohamad Romli menjelaskan tugas seorang wartawan saat ini yaitu melahirkan karya jurnalistik yang mampu menjawab persoalan. Tidak hanya sekedar menjadi penyampai pesan, sekretaris PWI Kabupaten Tangerang ini berpendapat, karya jurnalis justru menjadi bagian dari upaya perubahan masyarakat.

Baca juga:  Wali Kota Serang Apresiasi SMSI Bangun Jalan dan MCK

“Jurnalis idealnya tidak hanya berkutat dengan teks. Namun justru turut hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan hadirnya sosok-sosok yang dapat mendorong proses perubahan sosial ke arah yang lebih baik,” ungkapnya.

Sehingga melalui pelatihan ini ia berharap selain memperoleh pengetahuan, jurnalis dan aktivis serta kelompok masyarakat lainnya bisa bersinergi untuk melakukan aksi bersama demi mendorong proses perubahan sosial di Banten.

Baca juga:  DPR Kawal Transformasi Krakatau Steel demi Kedaulatan Industri Baja

“Jika saat ini isu ekologi dan kebencanaan menjadi perhatian kita bersama, maka tak hanya sekedar terus berdiskusi namun juga harus pada level tindakan atau aksi bersama. Saya meyakini, kolaborasi seperti ini akan lebih berdampak dan terlihat hasilnya, daripada melakukan kerja-kerja advokasi sendiri-sendiri,” tutur Mohamad Romli sosok yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan tersebut. (Dhi/Red)

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Saat merespon isu lingkungan dan kebencanaan, Aat berpesan kepada peserta pelatihan agar mampu membangkitkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian dan keberlanjutan kehidupan di bumi. Karya jurnalistik wartawan diharapkannya mampu melahirkan cara pandang ekosentrisme, yaitu pandangan hidup yang menyelaraskan diri dengan alam semesta.

Pandangan hidup demikian telah diwariskan oleh para leluhur di Nusantara. Di Banten tercermin dalam adat istiadat orang Kanekes (Baduy).

Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ekosentrisme tergeser oleh pandangan antroposentrisme dimana manusia menjadi pusat alam semesta, sehingga mengklaim sebagai penguasa alam semesta. Celakanya, cara pandang ini justru telah berdampak pada kerusakan lingkungan hidup yang melahirkan berbagai bencana.

Baca juga:  Wali Kota Serang Apresiasi SMSI Bangun Jalan dan MCK

“Dengan pendekatan jurnalisme profetik, kita diingatkan kembali bahwa tugas jurnalis tidak sekedar melakukan tugas-tugas jurnalistik seperti yang dikenal saat ini. Tapi, jauh lebih dalam, yaitu menjaga dan merawat kehidupan agar tetap selaras dengan gerak alam semesta,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Pelaksana Kegiatan, Mohamad Romli menjelaskan tugas seorang wartawan saat ini yaitu melahirkan karya jurnalistik yang mampu menjawab persoalan. Tidak hanya sekedar menjadi penyampai pesan, sekretaris PWI Kabupaten Tangerang ini berpendapat, karya jurnalis justru menjadi bagian dari upaya perubahan masyarakat.

Baca juga:  Lupakan Keramaian! 5 Destinasi Pantai Memukau di Luar Bali untuk Liburan Tenang

“Jurnalis idealnya tidak hanya berkutat dengan teks. Namun justru turut hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan hadirnya sosok-sosok yang dapat mendorong proses perubahan sosial ke arah yang lebih baik,” ungkapnya.

Sehingga melalui pelatihan ini ia berharap selain memperoleh pengetahuan, jurnalis dan aktivis serta kelompok masyarakat lainnya bisa bersinergi untuk melakukan aksi bersama demi mendorong proses perubahan sosial di Banten.

Baca juga:  Diduga Orderan Fiktif, Polisi di Banten Bantu Ganti Kerugian Ojek Online

“Jika saat ini isu ekologi dan kebencanaan menjadi perhatian kita bersama, maka tak hanya sekedar terus berdiskusi namun juga harus pada level tindakan atau aksi bersama. Saya meyakini, kolaborasi seperti ini akan lebih berdampak dan terlihat hasilnya, daripada melakukan kerja-kerja advokasi sendiri-sendiri,” tutur Mohamad Romli sosok yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan tersebut. (Dhi/Red)

Iklan Ads

Advertisement