Untuk itu, dr. Nina menyarankan orang tua melakukan tiga hal.

Pertama, memberikan edukasi, bukan sekadar larangan, agar anak memahami bahwa pembatasan dilakukan untuk menjaga keamanan dan kesehatan mereka.

Kedua, menyediakan aktivitas pengganti, seperti olahraga, seni atau berkebun sehingga waktu yang biasanya digunakan untuk bermain gawai dapat dialihkan ke aktivitas lain.

Ketiga, menjadi teladan dalam penggunaan gawai. Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila orang tua juga menerapkan kebiasaan digital yang sehat di rumah.

Dengan demikian, penerapan aturan perlindungan anak di ruang digital dapat berjalan beriringan dengan peran keluarga. Pembatasan akses menjadi salah satu upaya perlindungan, sementara edukasi dan pendampingan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental anak.

(Mad/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *