Untuk itu, Safrizal menekankan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan kota cerdas sesuai tujuan utama ASCN, yakni meningkatkan kehidupan warga perkotaan ASEAN. Apalagi saat ini terdapat beragam peluang dan tantangan akibat arus urbanisasi dan digitalisasi yang demikian cepat.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kota cerdas yang demikian, fokus pengelolaan perkotaan perlu diarahkan pada berbagai isu yang lebih spesifik, misalnya pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pengurangan emisi karbon, pembangunan berkelanjutan, transportasi terpadu, dan kemudahan berusaha.
Dalam persidangan tersebut tampak hadir delegasi dari sepuluh negara anggota ASEAN, antara lain ASCN National Representatives (NRs), Chief Smart City Officers (CSCOs), dan pejabat pendamping Sekretariat ASEAN, serta berbagai instansi pemerintah dan sektor swasta dari mitra eksternal ASEAN.
Adapun salah satu agenda dalam Persidangan Tahunan ke-5 ASCN kali ini adalah serah terima Keketuaan ASCN untuk tahun 2023 dari Kamboja kepada Indonesia.
Sebagai informasi, ASCN sendiri dibentuk pada 2018 di Singapura sebagai platform kerja sama bagi kota-kota dari sepuluh negara anggota ASEAN dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang cerdas dan berkelanjutan dengan menggunakan teknologi sebagai pendukung.
(Rdk)



