Pria yang kerap disapa Aji ini mengatakan, sebelum wabah Covid-19 melanda Indonesia, per hari paling sedikit melayani 10 piring. Akan tetapi sejak Covid-19 pendapatannya merosot tajam.
“Biasanya itu sehari paling sedikit 10 piring, eh sekarang 5 piring aja udah banyak banget. Kadang malah cuma 3 atau 4 piring aja,” ujarnya.
Kesulitan pendapatan juga dirasakan pedagang es dawet di Curug bernama Kasman. Dia mengaku sangat rugi, karena es dawet yang dibuatnya tidak habis terjual, dan hampir setiap hari ia harus membuang dagangannya. Demi kebutuhan sehari-hari, Kasman terpaksa memakai tabungannya.
“Ini aja udah sampe ambil uang dari tabungan Rp 1,5 Juta, ya habis mau gimana lagi. Setiap hari paling banyak cuma 6 gelas yang kejual,” jelasnya.
Masih kata Kasman, menurunnya peminat orang untuk beli es dawet lantaran untuk menghindari virus Corona. Karena masyarakat kini lebih sering meminum air hangat ketimbang air dingin atau es.
“katanyakan kalau lagi gini jangan minum es dan lebih sering minum air hangat. Yang biasanya beli aja sampe bilang lagi enggak minum es dulu, tapi minum air hangat,” ujarnya. (Map/Red)
Source: Anwar Ramadhan.



