Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Kerugian Kerusakan Hutan TNGHS Capai Ratusan Miliar, Kemenhut Gencar Tutup Lubang Tambang Ilegal

Banten  

Advertisement

INFOTANGERANG.CO.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan kerugian akibat kerusakan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) telah mencapai angka fantastis, yakni Rp350 miliar. Angka kerugian ini tercatat dari areal yang sudah diukur dan ditertibkan seluas 439 Hektare.

Direktur Penindakan Pidana Kehutanan, Rudianto Saragih Napitu, menyatakan bahwa kerusakan hutan TNGHS tidak hanya disebabkan oleh penambangan emas tanpa izin (PETI), tetapi juga oleh aktivitas ilegal lain seperti pengguna vila dan wisata.

“Kerusakan hutan TNGHS itu, selain penambang ilegal dan pengguna vila serta wisata,” kata Rudianto saat penutupan lubang PETI di Blok Cirotan, Kawasan Konservasi TNGHS, wilayah Kabupaten Lebak, Rabu (3/12/2025.

Baca juga:  Ancaman Buruh Akan Mogok Kerja, Gubernur Banten Bandingkan Gaji Tenaga Vaksin Pagi Sampai Malam Rp 2,5 Juta

Rudianto memastikan bahwa potensi kerugian kerusakan hutan TNGHS masih akan bertambah jauh di atas Rp350 miliar setelah operasi penertiban selesai. Hal ini karena perhitungan kerusakan lingkungan ekologis belum dilakukan, dan potensi kerugian negara akan dihitung lebih lanjut oleh Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP).

Operasi penertiban PETI ini telah dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, penutupan lubang tambang ilegal sudah dilakukan di Blok Cibuluh, Ciheang, dan Gunung Pedih yang berada di wilayah Kabupaten Sukabumi dan Bogor.

Baca juga:  Jawara Bentukan Polres Cilegon Siap Memburu Pelanggar Prokes Covid-19

Periode ketiga penertiban difokuskan di Kabupaten Lebak, meliputi penutupan 55 titik PETI di Blok Cirotan, Cisopa, dan Cimari. Hingga saat ini, total lubang PETI yang sudah ditutup di TNGHS mencapai 281 titik dari target keseluruhan 1.400 titik.

“Kami bersama Satgas PKH terus melakukan penertiban dan penutupan lubang PETI, karena bisa menimbulkan kerusakan hutan dan lingkungan alam, sehingga berpotensi menyebabkan bencana alam,” tegasnya.

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement