Duka terbesar sebagai caddy adalah harus tetap bekerja dalam kondisi cuaca apapun hujan badai hingga petir. “Kalau lagi hujan badai, kita tetap kerja. Tapi kalau ada petir, ada sirine yang menandakan harus berhenti dulu. Setelah reda, baru mulai lagi,” ceritanya.

Di akhir perbincangan, Bunga berharap masyarakat lebih menghargai profesi caddy. “Orang awam belum tentu tahu benarnya. Sangat menantang, capeknya kayak gimana. Yang tidak tahu ya yang orang awam. Tapi tolong menghargai,” pungkasnya.

Di balik setiap profesi, ada manusia dengan kerja keras dan martabat yang layak dihormati bukan sekadar stereotip yang melekat dari luar.

 

(AD/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *