​Bagi Yusharto, kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang kuat untuk menciptakan inovasi daerah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

​Mahasiswa KKN diharapkan mampu menggali potensi tersebut, mengemasnya menjadi program pemberdayaan, sekaligus memicu nilai ekonomi yang lebih besar bagi warga.

​”Kita tidak selalu harus memulai dari sesuatu yang baru. Banyak solusi justru lahir dari kekuatan lokal yang sudah dimiliki masyarakat. Tugas adik-adik sekalian adalah membantu mengembangkan potensi tersebut melalui pendekatan yang lebih inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” pesannya.

​Selain menuntaskan program kerja selama masa pengabdian, mahasiswa KKN juga diharapkan meninggalkan good practices (praktik-praktik baik) yang bisa dilanjutkan oleh masyarakat dan Pemda setempat.

Dengan begitu, manfaat KKN tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
​Yusharto menambahkan, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau pembangunan infrastruktur fisik. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu berinovasi sesuai karakteristik wilayah jauh lebih menentukan.

​Oleh karena itu, perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai mitra Pemda dalam memperkuat kapasitas masyarakat melalui riset, pengabdian, dan inovasi.

​(Ard/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *