Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Program Biopori dan Komposter, Cara Sederhana Namun Bermakna!

Tangerang Raya  

Editor: Redaksi

Program Biopori dan Komposter, cara sederhana namun bermakna. Eka Permanasari dan kawan-kawan mengusulkan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi berupa pembuatan biopori, komposter, dan sosialisasi kegiatan. (Dok. UPJ/infotangerang.co.id)
Advertisement

Melalui tulisannya yang berjudul “Penyelamatan Air Tanah dan Penanggulangan Sampah Melalui Program Biopori dan Komposter di Pemukiman Kecil Kelurahan Ciputat dan Ciputat Timur”, Dr. Permanasari berupaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan melakukan pembuatan biopori dan pengelolaan sampah organik melalui metode komposter.

Biopori merupakan lubang resapan berbentuk silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air ke dalam tanah. Sementara komposter adalah alat yang digunakan untuk membantu kerja bakteri pengurai materi organik berupa sampah menjadi bentuk baru dengan sifat seperti tanah.

Baca juga:  Wujudkan Moto Bermanfaat, 80 Proof Ultra Santuni Ratusan Anak Yatim di Pagedangan Tangerang

Untuk melaksanakan gagasan tersebut, Eka Permanasari, Ph.D., merencanakan dan mengadakan program yang dilaksanakan pada 3 klaster perumahan kecil yang terletak di Kelurahan Ciputat dan Ciputat Timur yang lokasinya berdekatan dengan kampus UPJ dan kawasan Bintaro Jaya.

Hal pertama yang dilakukan adalah membentuk forum group discussion. Melalui diskusi dan bedah masalah dengan warga klaster Amara Botanica, Paradise Park Villa Bintaro, dan Cuttleya Bintaro masalah yang dihadapi dan harapan akan keberlangsungan lingkungan tergali dari warga.

Baca juga:  Summit Idepreneurs Banten 2023

Pada ketiga perumahan tersebut, terdapat masalah penyerapan air akibat kurangnya pepohonan. Hal ini menyebabkan kekeringan saat musim kemarau. Ketiga klaster tersebut juga mengandalkan tukang sampah dengan jadwal yang kurang teratur, sehingga terjadi penumpukan sampah yang menyebabkan polusi udara dan ketidaknyamanan. Permasalahan sampah ini juga dipicu oleh keengganan penghuni untuk memilah sampah organik dan non organik.

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement