Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ads


Radang Amandel: Gejala, Pencegahan, Pengobatan, dan Risiko Pasca-Operasi

Kesehatan  

Editor: Ardiansyah

Foto: ilustrasi. (Dok. RS Sari Asih Group)
Advertisement

KESEHATAN – Amandel, atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai tonsil, merupakan sepasang jaringan kelenjar getah bening yang terletak di sisi kiri dan kanan bagian belakang tenggorokan manusia. Pada dasarnya, jaringan ini memegang peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh, khususnya pada masa kanak-kanak, karena berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama yang menyaring kuman, bakteri, dan virus yang masuk melalui mulut atau hidung.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika paparan mikroorganisme patogen terjadi secara masif atau kondisi imunitas tubuh sedang menurun, amandel yang semula berfungsi sebagai pelindung justru dapat berubah menjadi sarang infeksi.

Kenapa Amandel Berubah Menjadi Sumber Infeksi (Tonsilitis)

Kondisi di mana jaringan amandel mengalami infeksi dan peradangan akut inilah yang dikenal sebagai radang amandel atau tonsilitis. Menurut Dokter Spesialis THT RS Sari Asih Ciledug dr. Mediana Dewi Estanty, Sp.THT, radang amandel tidak hanya menyerang anak-anak, melainkan cukup sering dijumpai pada orang dewasa akibat paparan polusi, asap rokok, faktor alergi kronis, hingga masalah asam lambung (GERD) yang terus-menerus mengiritasi area tenggorokan.

Baca juga:  Waspada Fenomena “Super Flu” yang Sedang Viral: Gejala Lebih Lama dan Lebih Menular

Gejala Radang Amandel yang Harus Diwaspadai

Ketika amandel mengalami peradangan, beberapa gejala klinis yang umumnya dirasakan meliputi:

• Rasa sakit atau perih yang hebat di tenggorokan, terutama saat menelan makanan atau cairan.
• Amandel terlihat membengkak, berwarna merah pekat, dan terkadang disertai bercak putih atau kekuningan (eksudat).
• Demam tinggi mendadak disertai tubuh menggigil.
• Aroma napas menjadi tidak sedap (bau mulut/halitosis) akibat penumpukan sisa bakteri.
• Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar leher yang terasa nyeri saat ditekan.

Langkah Pencegahan dan Pengobatan

Untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi berulang pada jaringan amandel, tindakan pencegahan yang berfokus pada gaya hidup sehat sangatlah disarankan.

1. Menjaga Higienitas Mulut dan Tangan: Rajin mencuci tangan sebelum makan serta menyikat gigi secara teratur demi meminimalkan masuknya kuman ke area tenggorokan.

Baca juga:  Memulai Olahraga di Usia 50 Tahun? Ini Panduannya Agar Aman dan Sehat

2. Menghindari Zat Iritan: Menjauhi paparan asap rokok, polusi udara, serta membatasi konsumsi makanan yang terlalu berminyak, pedas, atau es yang dapat mengiritasi dinding tenggorokan.

3. Hidrasi yang Cukup: Mengonsumsi air putih dalam jumlah ideal guna menjaga kelembapan mukosa tenggorokan.

Kapan Harus Operasi?

Pada tahap awal atau radang akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri, penanganan medis umumnya melibatkan pemberian antibiotik yang sesuai resep dokter, obat peredaantiinflamasi antiinflamasi.

Namun, jika radang amandel berubah menjadi kronis, terjadi lebih dari 5-7 kali dalam setahun, atau ukurannya membesar secara ekstrem hingga memicu gangguan napas berat (Sleep Apnea / mendengkur parah saat tidur) dan menyulitkan proses menelan, maka tindakan pembedahan pengangkatan amandel (Tonsilektomi) menjadi solusi medis terbaik yang direkomendasikan.

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement