KOTA TANGERANG – Di tengah tuntutan transformasi digital pendidikan dan penguatan kompetensi abad 21, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi Program Studi Magister PAUD kembali menunjukkan langkah progresif dengan menggelar workshop bertema “Penataan Lingkungan Main dalam Mendukung Implementasi Berpikir Komputasional Bagi Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.”

Acara yang berlangsung pada Sabtu (25/4/2026) di Aula PGRI Kota Tangerang ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan IGTKI dan HIMPAUDI Kota Tangerang. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pendidik dengan kemampuan merancang ruang belajar yang mampu menstimulasi kemampuan computational thinking pada anak sejak usia dini.

Berpikir Komputasional: Bukan Sekadar Gadget dan Coding

Bukan sekadar pelatihan teknis, workshop ini membawa misi besar. Di balik tema yang diangkat, tersimpan pesan besar bagi dunia pendidikan anak usia dini: berpikir komputasional tidak harus dimulai dari coding, layar, atau perangkat digital, tetapi justru dapat dibangun dari sesuatu yang paling dekat dengan anak, yakni lingkungan main yang dirancang secara cerdas, terarah, dan bermakna.

Di banyak satuan PAUD, lingkungan main masih sering diposisikan sebatas area bermain yang menarik secara visual. Padahal, jika ditata dengan tepat, lingkungan main dapat menjadi ruang belajar yang sangat kuat untuk melatih anak mengenali pola, menyusun urutan, berpikir logis, membuat keputusan sederhana, dan memecahkan masalah. Inilah fondasi penting dari berpikir komputasional, sebuah kompetensi yang kini semakin relevan untuk menyiapkan generasi masa depan yang adaptif, kreatif, dan tangguh menghadapi perubahan zaman.

Dalam kegiatan ini, para guru PAUD tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga diarahkan untuk melihat ulang cara mereka menata ruang belajar anak. Bukan lagi sekadar membuat kelas tampak indah dan menyenangkan, tetapi menjadikan setiap sudut bermain sebagai alat pedagogis yang mampu menstimulasi cara berpikir anak secara mendalam.

Dr. Irma Yuliantina, M.Pd selaku Dosen Pembimbing PKM menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen akademik yang harus berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya guru PAUD di lapangan.

“Berpikir komputasional pada anak usia dini tidak harus dimulai dari teknologi. Justru fondasinya dapat dibangun melalui lingkungan main yang dirancang secara sadar, sistematis, dan bermakna. Jika guru memahami ini dengan baik, maka kelas PAUD akan menjadi ruang yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan stimulasi logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah sejak dini,” kata Dr. Irma.

Yang membuat workshop ini semakin kuat adalah kehadiran tim narasumber yang beragam dan relevan, yaitu Mansyur Ridho, Sri Lestari, Marijah, Iik Zakiah Darajat dan Yosephine Wijayanti.

Lingkungan Main sebagai “Guru Ketiga”

Salah satu narasumber, Mansyur Ridho, menegaskan bahwa lingkungan main dalam PAUD tidak boleh berhenti pada fungsi dekoratif.

“Lingkungan main di PAUD harus dipahami sebagai ‘guru ketiga’. Anak tidak hanya bermain di dalamnya, tetapi juga belajar mengenali pola, menyusun langkah, mengambil keputusan sederhana, dan memecahkan masalah melalui pengalaman yang menyenangkan. Jadi yang kita bangun bukan sekadar ruang bermain, melainkan ruang tumbuh bagi cara berpikir anak,” kata Mansyur Ridho.

Pendekatan Aplikatif yang Relevan

Kekuatan workshop ini terletak pada pendekatannya yang sangat aplikatif. Setelah sesi penguatan materi, peserta diajak masuk ke tahap yang lebih konkret: merancang lingkungan main yang mendukung aktivitas berpikir komputasional sesuai konteks kelas masing-masing. Model ini penting, karena guru PAUD tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga contoh implementasi yang bisa langsung dibawa pulang dan diterapkan di lembaga mereka.

Antusiasme peserta pun menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Guru-guru PAUD yang hadir terlihat aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta mengaitkan konsep yang dipelajari dengan kondisi nyata di kelas masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa tema yang diangkat benar-benar menjawab kebutuhan lapangan, bukan sekadar agenda seremonial.

Ketua IGTKI Kota Tangerang, Endang Mardiningsih mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai workshop ini sangat relevan dengan kebutuhan guru PAUD saat ini.

“Guru PAUD membutuhkan pelatihan yang tidak berhenti pada teori. Yang dibutuhkan adalah penguatan yang bisa langsung diterapkan di kelas. Workshop ini membuka wawasan baru bahwa penataan lingkungan main ternyata dapat menjadi strategi pembelajaran yang sangat penting untuk membangun dasar berpikir anak sejak usia dini,” ujarnya.

Testimoni dan Dampak Nyata

Salah satu peserta workshop, Desi Ayuningtyas Wulandari, mengaku kegiatan ini membuka cara pandang baru terhadap penataan lingkungan belajar di PAUD.

“Selama ini kami menata area bermain agar menarik dan menyenangkan. Setelah mengikuti workshop ini, kami jadi lebih paham bahwa penataan lingkungan main juga bisa dirancang untuk melatih logika, pola pikir, dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah sederhana. Ini sangat bermanfaat dan langsung bisa diterapkan,” ungkap Desi.

Dalam dunia PAUD, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari sekadar pelatihan satu hari. Ini merupakan sebuah penegasan bahwa inovasi pendidikan anak usia dini tidak selamanya harus mahal, rumit, atau bergantung pada perangkat digital. Sebaliknya, inovasi yang autentik justru lahir dari dalam ruang kelas, mulai dari cara guru menata alat permainan, merancang sudut eksplorasi, hingga menyusun alur aktivitas dan pengalaman belajar anak secara sadar serta terukur.

​Melalui inisiatif ini, Mahasiswa Pascasarjana PSU Bekasi membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat teori. Kampus harus hadir sebagai motor penggerak yang mentransformasi praktik pendidikan langsung di lapangan.

​Kolaborasi strategis dengan IGTKI dan HIMPAUDI Kota Tangerang menjadi bukti nyata bahwa penguatan mutu PAUD membutuhkan sinergi antara akademisi, organisasi profesi, dan para pendidik di garis depan. Jika gerakan kolaboratif ini terus diperluas, PAUD di Indonesia tidak hanya akan melahirkan anak-anak yang senang bermain, tetapi juga membentuk generasi yang sejak dini terbiasa berpikir sistematis, mengenali pola, bernalar kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

(Ard/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *