Close Ads

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iklan


Roy Wijaya Rencanakan Produksi Adaptasi Film dari Novel Handaru

DKI Jakarta, Lifestyle  

Foto kolase: Sutradara Roy Wijaya.
Advertisement

LIFESTYLE – Seiring perkembangan dan kemajuan teknologi film di Indonesia terus meningkat, baik dari kuantitas, kualitas, maupun jumlah penonton, dari sekian banyak judul film yang dirilis, belakangan banyak film yang skenarionya hasil adaptasi dari novel, komik, maupun cerita pendek. Hal itu, ternyata menarik banyak penonton.
 
Sutradara Roy Wijaya mengatakan dirinya berencana akan mengadaptasi film Handaru “Lelaki Juga Punya Hati” yang ditulis wanita cantik asal kota kembang Bandung, Diantika Irma Ekawati yang akrab disapa teh Diantika IE. Meski memiliki rumah produksi sendiri, Roy Wijaya tidak bisa langsung memproduksi filmnya. Pasalnya, hak ciptanya tetap ada dipenulis sehingga mereka berhak memilih produser film untuk novel mereka.
 
“Untuk itu, saya harus banyak pendekatan kepada penulis, hal itu sangat penting. Karena mereka memiliki karakter tersendiri ketika karyanya diadaptasi ke film,” kata Roy dalam keterangan tertulis, Kamis (11/3/2021).
 
Menurut Roy, prilaku sikap dari adaptasi novel ke film sama halnya ketika film berjudul Laskar Pelangi dan Perahu Kertas, Andrea Hirata dan Dewi Lestari berbeda dalam keterlibatan produksi film. Andrea Hirata mempercayakan interpretasi ke tim produksi film, sedangkan Dewi Lestari menjadi bagian penulis skenarionya.
 
“Bahkan untuk mendapatkan hak cipta film dari Pidie Baiq dalam Dilan 1990 dan Tere Liye dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak mudah. Pidie sebagai sutradara dalam film Barisan Anti Cinta Asmara sehingga ia bisa mengetahui seluk-beluk pembuatan film dan bisa mempercayakan produksi film Dilan 1990 kepadanya. Sementara itu, Ody melibatkan Tere Liye mengendalikan proses produksi,” jelasnya.
 
Masih kata Roy, begitupun dengan film Handaru, Teh Dian sebagai penulis tentu banyak tim di dalamnya, apalagi dia juga sebagai ketua Umum Komunitas Penulis Kreatif Indonesia (KPKers) pasti banyak melibatkan seniornya.
 
“Maka perencanaan itu harus matang dan harus banyak diskusi antara tim produksi film, penulis, dan penerbit. Hal ini penting agar terjalin simbiosis mutualisme, bila nanti kedepan sudah memilki produser yang memang mampu membiayai keseluruhan produksi,” tuturnya.

Baca juga:  Nasabah Raih Emas 1 Kilogram, Pegadaian Kantor Wilayah IX Tegaskan Komitmen Investasi Aman dan Inklusif

Apalagi saat ini, lanjut Roy, rata-rata produser tidak mau gambling sehingga mereka membuat film adaptasi. Misalnya, sebuah novel terjual 50 ribu eksemplar, pembacanya di perkirakan dikali 4. Bila di filmkan harapannya ditonton paling tidak sekitar 200 ribu orang.

Baca juga:  PWI Dukung Program Rumah Bersubsidi untuk Wartawan, Tak Ganggu Independensi Pers

“Biaya untuk memproduksi film besar (membuat film adaptasi) dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan kerugian,” terangnya.
 
Disisi lain, film adaptasi sering menjadi trigger membuat buku-buku sejenis laku atau sebaliknya. Roy mencontohkan, film The Conjuring telah membuat buku-buku bertema horor laris di pasaran. Di sisi lain, larisnya buku Harry Potter atau Twilight, membuat filmnya juga banyak penontonnya.

Iklan Ads

Advertisement

Scroll to Continue With Content

Advertisement