Lalu lintas logistik yang dipenuhi truk-truk raksasa semakin menambah dramatis suasana. Beban berton-ton yang melindas sisa-sisa aspal setiap hari memastikan bahwa kerusakan ini akan terus bertambah setiap jamnya. Di pinggir jalan, drainase yang buruk dan tumpukan sampah menyapa ramah, seolah mengonfirmasi bahwa kawasan ini memang sedang dianaktirikan.
Masyarakat sekitar sudah kenyang dengan janji-janji manis. Namun, kenyataan di depan mata tetap pahit. Perbaikan setengah hati dengan sistem “tempel-sulam” yang hanya bertahan seminggu sepertinya sudah menjadi tradisi yang dipelihara.
Padahal, yang dibutuhkan warga bukan sekadar tambalan aspal setipis bedak, melainkan betonisasi total. Jika pemerintah tetap memilih untuk “tutup mata”, mungkin warga perlu memasang papan pengumuman baru: “Hati-hati, Anda Sedang Memasuki Kawasan Pengabaian Pemerintah Banten.”
Hingga berita ini diturunkan, “bom waktu” di Jalan Raya Salembaran masih terus berdetak, menunggu korban berikutnya sementara pejabat berwenang mungkin sedang sibuk rapat di ruangan ber-AC yang lantainya tentu jauh lebih mulus daripada jalanan di Teluknaga.
(AD/Rdk)



